ARTIKEL

HARIMAU JAWA TIDAK PERLU DIJEMPUT?

oleh: Dedy Rahmat

Di Indonesia, harimau sang raja hutan penjaga rimba kini mengenaskan nasibnya. Saat ini mereka makin terdesak diantara geliat ekspansi manusia ke wilayah hutan dengan berbagai kepentinganya, dari mulai urusan alih fungsi lahan yang sebelumnya hutan belantara menjadi wilayah pemukiman, pembukaan lahan sawit, hingga urusan perburuan yang makin mempercepat status terancam punah menjadi fenomena yang nyata. Lembaga konservasi Internasional WWF pada 2008 menegaskan bahwa populasi Harimau Sumatera saat ini tinggal 400 ekor, dan dalam kurun waktu 1998-2002, terdapat sedikit nya 50 kasus perburuan (yang terdeteksi).

Di tanah Jawa Harimau Jawa pernah “merajai rimba” dan menjadi binatang yang sangat melekat dengan kebudayaan masyarakat setempat. Khsusnya di Jawa Barat, harimau hingga menjadi ikon Prabu Siliwangi pemimpin Kerajaan Pasundan yang diidentikan memiliki aura magis harimau, menjadi lambang kesatuan TNI (Pasukan Siliwangi), hingga menjadi ikon tim sepakbola kebanggan Jawa Barat Persib Bandung yang berjuluk “Maung Bandung” (*Maung: Harimau). Pada abad ke-18 dan 19, harimau dikenal binatang yang masih sering terlihat di hutan-hutan tropis tatar Pasundan.

Seiring dengan ekspansi para Tuan Tanah dan Pengusaha Perkebunan asal Belanda (pada era kolonialisme) di tanah Jawa yang gencar melakukan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan pada awal abad ke-20, jumlah konflik antara Harimau Jawa dengan manusia makin meningkat. Harimau kerapkali terlihat masuk ke pemukiman warga, seperti yang pernah terjadi Garut, di wilayah Bungbulang pada tahun 1920-an.

De Suamtra Post, koran yang terbit pada zaman “keemasan” penjajahan Belanda, menungkap di seluruh Priangan pada tahun 1930 dilaporkan 56 ekor ternak mati oleh hewan liar. Tahun 1921 tercatat 137 ekor ternak mati. Walaupun disebut bahwa anjing liar (ajag) juga banyak sebagai pemangsa, tetapi harimau lebih dicurigai sebagai penyebab banyak kematian ternak itu. Di Bungbulang sendiri, pada bulan Februari di tahun yang sama, terdapat 10 ekor kerbau, 12 kuda, 72 domba dan 18 kambing dimangsa harimau, dengan taksiran kerugian total sekitar 21.000 gulden.

Selain ternak, pada tahun 1920, di daerah Bandung, seorang pria dilaporkan meninggal diterkam harimau, kemudian pada tahun 1921 di Cianjur dan Tasikmalaya, juga ada laporan manusia yang terluka diserang. Angka-angka itu menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Gambaran di atas, “kini tinggal kenangan”, saat ini tidak pernah lagi ditemui konflik antara manusia dengan harimau, karena Harimau Jawa yang terkenal dengan nama latin pathera tigris sondaica telah dicap punah sejak 1980. Pada tahun 1940-an, Harimau Jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Pada tahun 1950-an, ketika populasi Harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Pada tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional Meru Betiri. Pada tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di Pulau Jawa namun tidak menunjukkan pengembangbiakan.

MENJEMPUT HARIMAU JAWA, “MENJEMPUT HANTU?”
Pada awal 1990-an, terdapat beberapa penelitian di Jawa untuk mendeteksi keberadaan Harimau Jawa yang dipercaya menurut beberapa sumber masih ada. Berbagai ekspedisi mengungkap temuan bekas cakaran pada batang pohon dan faces/kotoran yang dipercaya identik dengan harimau. Namun berbagai kamera trap yang disebar tak mampu merekam keberadaan harimau, termasuk di Merubetiri yang notabene dianggap wilayah terakhir habitat Harimau Jawa.

Pada pertengan 2018, beberapa yayasan/organisasi yang bergerak dalam wilayah konservasi bekerjasama dalam sebuah kegiatan ekspedisi “Menjemput Harimau Jawa” yang penelitiannya difokuskan di wilayah Ujungkulon Banten. Penelitian ini dilakukan untuk memperkuat hasil pengambilan foto dugaan Harimau Jawa pada tahun 2017 oleh polisi hutan setempat. Namun belakangan foto ini menjadi perdebatan, karena resolusi yang rendah, foto ini tidak benar-benar jelas menunjukkan sosok harimau, bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengkonfrontirnya dengan menyebut bahwa foto tersebut justru identik dengan Macan Jawa (Panthera Pardus Melas).

Sementara Macan Jawa (tutul dan kumbang), tercatat hingga awal tahun 2019 masih sering ditemui memasuki wilayah perkampungan, seperti yang ditemukan di wilayah pegunungan Ciamis, Kabupaten Subang, Bandung Selatan, Kabupaten Garut, Kabupaten Sukabumi, dan wilayah Banten. Berdasarkan keterangan berbagai sumber dipercaya bahwa masuknya Macan Jawa ke wilayah pemukiman karena persoalan yang klasik, yaitu berubahnya area hutan menjadi pemukiman penduduk, dan mangsa yang makin menipis akibat perburuan liar dan perambahan hutan. Macan Jawa seharusnya hidup sehat dalam wilayah penguasaan teritorial 10 km persegi per ekornya, sementara hutan di Jawa Barat terus menerus mengalami kerusakan, semakin sempit, dan tidak lagi menjadi penyangga penyeimbang ekosistem.

Pada tahun 1920-an Harimau Jawa yang notabene memiliki wilayah teritorial per ekor yang lebih besar dari Macan Jawa (menyesuaikan dengan ukuran tubuh dan kebutuhan ukuran dan jumlah makanan), masih sering ditemukan berkonflik dengan manusia layaknya kasus antara Macan Jawa dan Manusia yang masih sering terdengar hingga saat ini. Namun bisa dikatakan cerita harimau seperti itu “tinggal kenangan”. Jika macan saja sudah terdesak dan merangsek ke wilayah manusia, maka seharusnya harimau justru lebih “ganas” dan lebih sering berhadapan dengan manusia, karena daya jelajahnya justru melebihi Macan Jawa.

Dengan demikian, apakah “Menjemput Harimau Jawa itu adalah menjemput hantu?” atau mengejar mahluk yang telah punah? Atau menjemput sesuatu yang nyata? Hanya penelitian dan pembuktian dengan validitas tinggi yang mampu membuktikannya.

(Penulis adalah anggota Mapella-Unla angkatan Hujan Rimba/1997, NRP. L.977466.HR)

Instagram:https://www.instagram.com/dedy_rahmat123/

Sumber:
http://www.biologi.lipi.go.id/index.php/component/content/article/9-yt-sample-data/category1/598-peneliti-lipi-satwa-yang-tertangkap-kamera-itu-lebih-tepat-macan-tutul-ketimbang-harimau-jawa

http://www.biologi.lipi.go.id/index.php/component/content/article/9-yt-sample-data/category1/588-misteri-si-loreng-di-alas-ujung-kulon

https://id.wikipedia.org/wiki/Harimau_jawa

https://www.mongabay.co.id/2018/07/11/ekspedisi-harimau-jawa-pencarian-tanpa-lelah-karnivora-yang-dinyatakan-punah/

http://ksdae.menlhk.go.id/berita/3891/ekspedisi-menjemput-harimau-jawa-di-taman-nasional-ujung-kulon.html

https://harja.astacalafoundation.or.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published.