ARTIKEL

HARUSKAH JADI PECINTA ALAM?

Oleh: Dedy Rahmat

 Pada tahun 2007 yang lalu Mahasiswa Pecinta Alam Langlangbuana (Mapella-Unla) pernah mengadakan sebuah penelitian kecil untuk mengukur tingkat minat mahasiswa (khususnya Unla) terhadap kegiatan alam terbuka dan pecinta alam sebagai sebuah organisasi. Kuisioner yang disebar ketika itu kurang lebih sebanyak 300 lembar, disebar secara random kepada mahasiswa yang ada di lima fakultas (FISIP, Teknik, Ekonomi, Hukum, dan FKIP).  Adapun responden yang dipilih beragam, dari mulai mahasiswa reguler semester awal, pertengahan, hingga mahasiswa tingkat akhir. Penelitian tersebut, dilakukan sebagai respon terhadap gagalnya pelaksanaan pendidikan dasar karena peserta yang minim dan akhirnya seluruhnya mengundurkan diri.

Pertanyaan yang disebar seputar bagaimana minat mahasiswa terhadap kegiatan alam bebas (mendaki gunung, panjat tebing, arung jeram, susur gua, susur pantai, dll). Pertanyaan lainnya adalah menyangkut bagaimana apresiasi mahasiswa terhadap alam serta bagaimana pandangan mahasiswa terhadap pecinta alam sebagai sebuah wadah pengembangan kepemimpinan (organisasi) yang diaplikasikan dalam berbagai metode.

Sekalipun penelitian ini cukup sederhana (jumlah mahasiswa Unla ketika itu sekitar 2000-an, dan responden yang diambil sebanyak 300 sebagai sampling), dan tidak mengolahnya melaui metode statistik (hanya bersandar pada angka-angka prosentase), hasilnya ternyata cukup baik. Dari sejumlah jawaban responden menunjukkan 88 persen mahasiswa memandang positif kegiatan di alam terbuka (termasuk yang dilakukan pecinta alam). Demikian pula soal pecinta alam sebagai organisasi dipandang sebagai aktivitas yang positif (86 persen). Pendapat lain yang menjurus kepada citra negatif adalah organisasi pecinta alam dianggap keras, arogan, eksklusif, menganggu aktivitas perkuliahan/membuang-buang waktu, dan terkesan “slengean” (bergaya “cuek” dan bebas).

Walaupun penelitian saat itu hanya dalam skup lokal, namun dapat ditarik sebuah hipotesis bahwa minat mahasiswa terhadap kegiatan kepecintaalaman pada dasarnya adalah positif, tanpa mengenyampingkan pandangan negatif yang juga bisa terus berkembang.  Pandangan tersebut, mungkin juga bisa ditarik pada organisasi pecinta alam pada skup tingkat sekolah menengah atas, dan umum. Pandangan 10 tahun yang lalu, tampaknya tidak berubah, bahkan cenderung berkembang. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya komunitas-komunitas penyaluran hobi berkegiatan di alam bebas (misalnya komunitas pendaki gunung, panjat tebing, dll).

Dampak teknologi informasi, “Narsisme dan selfie-isme”

Menjamurnya komunitas-komunitas penyaluran hobi di alam terbuka, tentunya tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi dalam konteks budaya baru “narsisme” atau “selfie-isme”. Aplikasi layanan media sosial pada teknologi internet dan kemudahan jaringannya pada teknologi seluler telah membawa dampak pada makin tingginya minat publik untuk berkegiatan dan menjadi agen-agen informasi, seperti kata Bill Gates (pendiri Microsoft) yang telah meramalkan jauh sebelumnya bahwa perkembangan teknologi informasi akan membawa manusia pada abad milenium ini menjadi “pekerja-pekerja informasi”.

Saat ini manusia menjadi sangat “informatif”. Dalam hitungan detik jutaan informasi dapat diakses lewat jaringan media sosial dari mulai hal yang tergolong sangat penting sampai tidak penting sama sekali (misalnya dari mulai informasi keadaan cuaca dan bencana, sampai soal aktivitas pribadi yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipublikasikan, misalnya soal update makanan yang sedang disantap, atau penyebaran citra diri, dan lain sebagainya). Sementara fenomena pembangunan citra diri melalui media sosial dengan subyek alam mempunyai daya tarik tersendiri, dan sangat berhubungan dengan “machoisme dan karya seni tinggi”.

Memilih organisasi pecinta alam atau komunitas pendaki gunung?

Lalu apa hubungan antara citra positif pecinta alam, berdirinya komunitas-komunitas penyalur hobi, dan berkembangnya teknologi informasi? Pertama, teknologi informasi adalah alat bantu yang paling mujarab dalam membangun citra antara organisasi pecinta alam dan komunitas-komunitas. Kedua kelompok ini membangun dan mengembangkan jaringan dengan teknologi informasi (namun khususnya pecinta alam, jauh sebelum teknologi informasi berkembang seperti saat ini telah membangun dan mengembangkan organisasi sejak era 1950-an, sementara maraknya komunitas-komunitas kegiatan alam terbuka sekitar pertengahan 2000-an).

Lalu apakah komunitas-komunitas kegiatan alam terbuka menjadi sebuah ancaman bagi eksistensi pecinta alam? Dalam konteks tertentu bisa dikatakan demikian, sekalipun antara masuk organisasi pecinta alam atau pun komunitas pendaki gunung misalnya, adalah sebuah pilihan, namun masyarakat yang cenderung pragmatis akan memotong jalur yang sulit dan memilih jalan termudah, yaitu memilih komunitas-komunitas untuk penyaluran hobi, yang tanpa mengenal sistem keanggotaan seperti pada organisasi pecinta alam.

Sistem pada organisasi pecinta alam bisa jadi menjadi sebuah fenomena yang “rumit” dan “mempersulit”. Bayangkan saja, untuk menjadi anggota harus melalui tahapan seleksi adminsitrasi, kesehatan, fisik, pengetahuan, wawancara, hingga ditentukan statusnya oleh panitia penentu akhir (lulus atau tidaknya pendaftar menjadi siswa dalam pendidikan dasar). Setelah dinyatakan lulus, lalu memasuki tahapan pendidikan dasar (pembinaan mental, fisik, dan pengetahuan dasar kegiatan alam bebas).

Setelah lulus dalam pendidikan dasar, mereka berstatus anggota muda dan wajib mengikuti program pola pembinaan kurang lebih 6 sampai dengan 12 bulan, lalu berkewajiban mengikuti program pengembaraan (penjelajahan dan penelitian di alam terbuka) dan wajib membuat sebuah laporan hasil pengembaraan dan dipertanggungjawabkan dalam sidang yang akan menentukan apakah yang bersangkutan dinyatakan berhasil atau gagal menempuh ujian pengembaraan untuk mengikuti tahapan pembinaan selanjutnya.

Lalu menjelang pendidikan dasar selanjutnya, anggota muda wajib mengikuti kursus pelatih (training of trainer), dan bagi yang dinyakan lulus berhak menjadi staf Komando Latihan (Kolat) atau panitia dalam pendidika dasar selanjutnya. Proses pembinaan anggota menuju pencetakan anggota selanjutnya kurang lebih 1 tahun, bahkan ada yang dilakukan selama 2 tahun. Proses di ini, belum “seabrek” tempaan mental dan fisik sebagai “junior  yang sarat perintah dan tekanan” dari anggota yang lebih senior, yang disadari atau tidak dapat dimaknai positif sebagai sebuah “metode informal dalam melatih dan menguji kesabaran, ketabahan, dan loyalitas anggota”.

Setelah 1 tahun mengalami jenjang pembinaan, anggota organisasi pecinta alam tidak memasuki “masa pensiun”, karena organisasi pecinta alam tidak mengenal “purnawirawan panjat tebing atau pendaki gunung”. Justru setelah berstatus anggota penuh, maka masuklah mereka pada masa pengabdian yang hakiki baik secara organik maupun non-organik. Sebuah kekuatan besar pada organisasi pecinta alam adalah “status keanggotaan seumur hidup” yang secara otomatis mengikat persaudaraan yang kuat dan tidak memututus “lalu-lintas” ilmu dan pengetahuan antar-anggota, dari mulai anggota muda hingga “angkot/angkatan kolot”.

Masa pendidikan dan pembinaan berjenjang, dan pengabidian yang tidak mengenal waktu dan batas usia pada organissai-organisasi pecinta alam telah membentuk krakter-karakter “siap tempur”.  Militansi yang tinggi yang merupakan olahan dari semangat, jiwa korsa, dedikasi, loyalitas, dan pengabdian adalah output dari sebuah sistem pembinaan organisasi pecinta alam, outcome-nya adalah mereka selalu siap menyingsingkan lengan baju untuk kepentingan masyarakat, bahkan dalam konteks kepentingan yang lebih besar untuk bangsa dan negara (contohnya saat hadir di tengah-tengah masyarakat yang tertimpa bencana, dan selalu ada pada situasi sosial apa pun tanpa harus diminta dengan inisiatif yang tinggi).

Menempa diri, berlatih, dan berpetulang dalam konteks spirit pengabdian.

Dari gambaran di atas, beruntunglah kita yang menjadi bagian pecinta alam. Sebuah proses panjang dalam menempa diri, berlatih, dan berpetualang tidak pernah luput dari sebuah spirit pengabdian, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Semangat pengabdian secara internal salah satu ukurannya adalah keterlibatan dalam proses kederisasi yang terus berjalan dan mengambil peran dalam wadah pengembangan “laboratorium kepemimpinan” yang diaplikasikan dalam berbagai metode, baik manajerial organisasi maupun manajerial pada kegiatan di alam terbuka. Sementara pengabdian secara eksternal salah satu ukurannya adalah terkait posisi pecinta alam dalam peran dan fungsi nya di tengah-tengah kehidupan sosial.

Definisi pecinta alam sebagai  “Sekelompok manusia yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,  terdidik dan terlatih, serta bertangungjawab yang bertujuan menjaga dan memelihara alam” (disahkan oleh dalam Kongres II Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya/FK-KBPA-BR, di Bumi Perkemahan Manglayang tahun 2002) adalah sebuah gambaran jatidiri pecinta alam. Definisi tersebut, sekaligus menggambarkan visi dan outcome dari sebuah proses panjang yang sejatinya menghasilkan karakter-karakter yang tangguh.

 

(Penulis adalah anggota Mapella-Unla angkatan Hujan Rimba/1997, NRP. L.977466.HR, anggota Dewan Pengarah Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya periode 2017-2019)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.