CELETUK

“PECINTA ALAM JADI LEM PEREKAT DALAM KRISIS KEBANGSAAN”

Oleh: Yat Lessie (Jana Buana IMT Cimahi)

Kejadiannya …
Di awal tahun 2000-an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan ( impeachment ).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi keberingasan massa, saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini?
Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami KRISIS KEBANGSAAN, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan … krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Cimahi yang baru saja menjadi sebuah kota resmi. Kerja aparatur pemerintahan pada masa itu, menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, kepala kesbang kota Cimahi mendatangi, seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 76 organisasi massa dan LSM yang tercatat di kota kami. Beberapa yang punya akar resmi. Namun tak jarang yang dibentuk berupa LSM asal jadi. Dengan modal ancaman demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut.

Kesbang, meminta bantuan pada Jana Buana – IMT, agar mencarikan solusi.
Menyatukan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan lagi rahasia umum. Padahal kota yang baru berdiri ini masih jabang bayi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif. Mengapa Jana Buana – IMT yang dipilih, adalah karena kami punya akar sejarah yang kuat di Cimahi, dan kepastian bahwa kami bersifat independen murni, non partisan dan berdiri diatas semua golongan.

Keputusannya, di Cimahi harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi massa dan LSM, plus DPRD serta dari kalangan eksekutif pemkot. Kita semua harus bersepakat , bahwa situasi chaos diluar sana, tidak harus berdampak terlampau dalam, bagi sang kota tercinta. Untuk itu LSM harus terkumpul dalam sebuah forum, agar memudahkan dalam koordinasinya.

Hari H penyelenggaraan diputuskan, lokasinya di gedung pertemuan jl Gatot Subroto, tepat disebelah Kodim. Undangan untuk eksekutif, legislatif dan perwakilan 76 buah organisasi serta LSM yang berlokasi di Cimahi, sekitar 400 orang hadirin. Pembicara sekaligus nara sumber, ditetapkan dua orang. Yang pertama Bapak alm. Setia Permana, mewakili kaum akademisi. Kelak beliau akan menjadi anggota DPR RI dari propinsi Jabar. Pembicara kedua , saya pribadi yang mewakili jana buana – IMT selaku kelompok praktisi. Temanya tentang krisis kebangsaan …

Hari H, dilaksanakan sesuai jadwal …
Hadirin sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Pak Alm. Setia Permana mengawali. Dengan pembawaannya yang kalem dan “smart”, membawakan materi tentang konsep kebangsaan seperti yang seharusnya….
Selama beliau berdiri di podium membawakan materi, saya masih clingak clinguk kebingungan. Materi yang akan saya bawakan, tak jauh berbeda dengan text-book nya pak Setia. Jujur saja, sempet mental ini rada ciut juga. Dengan dinamika dan heterogenitas hadirin, dari kalangan eksekutif pemerintahan, para anggota DPRD, organisasi massa / LSM, dibutuhkan sesuatu yang lebih “menggebrak” …

Kang Yat dari Jana Buana , silahkan menyampaikan materinya … begitu Moderator mempersilahkan, sekaligus menyadarkanku dari lamunan yang sempat mengawang jauh.
Benar saja, materi yang kusampaikan menghasilkan kondisi “flat”, tak nampak ada riak pada wajah pengunjung. Karena terlampau text-book thinking. Jadi kupercepat saja penyampaiannya, dan kusegerakan saja pada momen paling krusial , membahas tentang krisis kebangsaan …

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita ?…. aku mengambil nafas.
Saya juga sempat ikut demontrasi … hadirin mulai beriak, tanda merespons.
Enggak tanggung, semua demonstran bersenjata golok … hadirin mulai riuh 
Jumlahnya juga enggak kepalang, sekitar 130 pemuda, saya mengomando 88 orang diantaranya. Tambah lagi 300 orang warga masyarakat simpatisan. Hadapkan dengan 220 orang dari TNI dan brimob, plus 18 orang dari Kopassus …. hadirin semakin penasaran, perang bubat apa yang bakal terjadi, jika semua komponen tadi dimasukan kedalam sebuah wilayah dalam bentuk demontrasi.
Bukan sehari dua hari kami saling berhadapan, tapi berlanjut sampai 13 hari … aku kembali mengambil nafas.

Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan semua orang dengan parang dan golok ditangan. Pekikan dan keriuhan juga dikumandangkan … persis seperti suguhan di TV yang bisa ditonton semua orang …. sejenak aku berhenti, lalu kuteruskan perlahan.
Namun … anehnya, saat semua golok terhunus dan diayun … tapi tak setetes darah yang dikucurkan … aku mengambil jeda lagi, membiarkan publik untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah, saat kami semua terlibat dalam kegiatan SAR, mencari 3 orang penumpang pesawat n-bell yang jatuh di pegunungan Burangrang, sekian bulan yang lalu … 
Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan …
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya menolong para korban, agar keluarganya bisa tahu. Jikapun mereka sudah wafat, jangan sampai ada orang tua yang tak tahu dimana makam anaknya, istri yang tak tahu dimana kubur suaminya, anak yang tak bisa menyambangi peristirahatan terakhir ayahnya … 
Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ratus orang bersenjata golok ditangan, namun kami berkumpul disini demi silaturahim …. berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua …. se bangsa !!!

Jika kami, kita semua dituduh telah mengalami krisis kebangsaan, maka demontrasi operasi SAR itu tak akan pernah kami lakukan. Padahal korban, bukanlah saudara, kenalpun tidak. Kami juga tak se senpun dibayar untuk seluruh ihtiar. Semua kami lakukan karena kami sadar bahwa kita semua saudara se bangsa dan sesama manusia …. Pengunjung tercenung
Kami dan kita semua disini, tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat kekuasaan. Yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kursi … aku melanjutkan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri …
Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby ? … berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania ? …
Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama ?
Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama ? …. ataukah 
Silatulrohmi , kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi , karena kita manusia, karena kita merasa se bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama ? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan …. Silahkan pilih ?
Semua hadirin serentak memilih …. silaturahim !

Aku melanjutkan …. kalau begitu, apakah sah, jika kita katakan bahwa berkumpulnya kita bersama pada saat ini, adalah merupakan awalan untuk terbentuknya Forum silaturahim 76 LSM se Cimahi ?…
Semua setuju dan mengatakan sah !.

Aku membuang nafas panjang, beban tanggung jawab itu terlewat. Forum kesatuan dan persatuan LSM itu terbentuk sudah. 
Tak usah ada lagi kecurigaan dan suudzon diantara kita semua. Sebaliknya sinergisme antara aparat eksekutif, legislatif dan organisasi masyarakat, menjadi indah jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang ….
Aku menyudahi dan kembali ke kursi. Sebelum pulang, seorang reporter dari TVRI Bandung menghadang, meminta wawancara singkat …

Kalau begitu dimana posisi LSM ini pak yat, apakah mereka menjadi mitra pemerintah … tanya sang reporter.
Benar, mengapa tidak, mitra yang tetap kritis, teman yang tak akan membiarkan sahabatnya melakukan kekeliruan. Bukan teman yang sekedar meng iya-iya kan, demi sejumput proyek dan uang lembaran …. sahutku tegas

Itu 15 tahun yang lewat,
Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pecinta alam, diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat.

Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita, PA Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik pengkerdilan keberadaan PA, bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi.
Mungkin Pecinta alam Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Namun jika saya mengadaptasi ucapan Paclav Havel, mantan presiden Cheko …

For us 
Another world, its always possible !!!

Klik: FB Yat Lessie

Leave a Reply

Your email address will not be published.