BERITA

MACAN JAWA GUNUNG TILU TEREKAM KAMERA

(foto: conservation.org)
(foto: conservation.org)

SALAM RIMBA – Tim Pengembaraan Halimun Belantara, akhirnya telah rampung membuat laporan “Penelusuran Keberadaan Macan Jawa di Cagar Alam Gunung Tilu 2056 mdpl” dan dipertanggungjawabkan melalui Sidang Laporan Pengembaraan di Ruang Pertemuan Rektorat, Jl, Karapitan 116, Kampus Universitas Langlangbuana Bandung pada Sabtu (5/11/2016). Dalam sidang tersebut, Rizal Taufik dan Legion Towansiba berhasil menjawab pertanyaan dari para penguji dan dinyatakan lulus, dan berhak menyandang Slayer Oranye sebagai simbol peningkatan kualifikasi anggota muda, yang sebelumnya menggunakan Slayer Hijau selama kurang lebih 7 bulan sejak dinyakan lulus dalam Pendidikan dan Latihan Dasar Mapella Angkatan XXV.

Tim penguji yang dipimpin langsung oleh Ketua Mapella Hendra “Bogel” Hidayat, Wanto Nurjaman, Willem Dominggus “Asep Domi” Mabel, Tedi “Aceng”, dan Adam Hasby ini, menanyakan berbagai persoalan dari mulai pemahaman laporan, kronologi kegiatan di lapangan, data yang diperoleh, serta kemamuan ilmu medan peta kompas yang menjadi bagian penunjang program tersebut.

Dalam pemaparannya, Tim Pengembaraan Halimun Belantara menjelaskan mengenai fokus penelitian yang dilaksanakan di Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamapatan Pasir Jambu, dan Kampung Kiarasindang, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan. Mereka juga melengkapi data dengan mewawancarai Lembaga Swadaya Masyarakat Aspinall, sebuah lembaga NGO luar negeri yang berbasis di “salah satu blok” Cagar Alam Gunung Tilu.

Selain melakukan wawancara, mereka juga melakukan observasi langsung ke wilayah dugaan, yaitu dengan membuka jalur baru melalui punggungan dari wilayah puncak Gunung Tilu ke wilayah lembah bagian Utara dari puncak (Gunung dan Kampung Lamajang), yang membelah beberapa patahan sungai kecil yang dipercaya sebagai wilayah habitat mangsa dan predator. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti temuan sebelumnya oleh National Geographic yang telah memasang kamera trap di wilayah itu.

“Air adalah sumber kehidupan, patahan-patahan sungai kecil di Gunung Tilu adalah bagian dari penjaga ekosistem yang menjaga satwa yang ada di cagar alam ini. Baik predator utama maupun mangsa,” tutur Rizal.
Berdasarkan keterangan aparat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah yang berada di Pangalengan, keterangan penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani, pemburu babi hutan dan burung, diperoleh keterangan mengenai keberadaan Macan Jawa (Panthera Pardus Melas) yang dibuktikan dengan temuan bekas jejak, cakaran pada batang pohon pada tahun 2010. Berbagai bukti jejak Macan Jawa ini tidak saja ditemukan di wilayah hutan, tetapi juga ditemukan di area perkebunan, seperti halnya temuan jejak pada perkebunan karet dan hilang serta matinya beberapa hewan ternak dengan bekas gigitan dan cakaran di tubuhnya.

Pihak BKSDA setempat, mempercayai bahwa wilayah Gunung Tilu dan bagian Utara gunung yang berbatasan dengan Gunung Lamajang bukanlah tempat habitat utama Macan Jawa, kemungkinan hewan yang terancam punah ini hanya menjadikan wilayah tersebut sebagai wilayah perlintasan dalam mencari mangsa. Hal ini dilihat dari hutan yang tidak begitu luas dan cenderung berdekatan dengan perkampungan, sehingga menimbulkan “konflik perbatasan” antara Macan Jawa dengan manusia.

Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah pada tahun 1980, masih bisa dilihat dan diburu di Hutan Malingping Banten, pada tahun 1941.
Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah pada tahun 1980, masih bisa dilihat dan diburu di Hutan Malingping Banten, pada tahun 1941.

Macan Jawa Terekam Camera Trap dan Ancaman Kepunahan
Sementara data yang diperoleh di “salah satu blok” Cagar alam Gunung Tilu semakin memperkuat penelusuran keberadaan Macan Jawa. Kamera trap berhasil mengabadikan foto dua ekor Macan Jawa (tutul dan kumbang) yang tengah mencakar batang pohon (menandai wilayah dan mengasah kuku). Serta sebuah video yang menunjukkan adanya dua ekor macan tutul berumur sekitar 2 tahun.

Tim Pengembaraan Halimun Belantara, juga menjelaskan bahwa upaya penelitian maupun konservasi Macan Jawa adalah hal yang sangat penting mengingat populasi mereka yang semakin terancam punah. “IUCN menjelaskan bahwa jumlahnya di Indonesia (di Indonesia hanya terdapat di Pulau Jawa) sekitar 250 ekor, sementara menurut Kementerian Kehutanan jumlahnya di bawah 500 ekor,” terang Rizal.

“Bisa kita bayangkan, kita ambil yang terburuknya saja, dimana jumahnya tinggal 250 ekor. Harimau Jawa saja jumlahnya menyusut tajam. Pada tahun 1950an jumlahnya tinggal 25 ekor, lalu pada tahun 1979 tinggal 3 ekor dan tahun 1980 punah sama sekali yang terakhir ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri. Dalam kurun waktu 30 tahun dari jumlah 25 bahkan bisa punah sama sekali, lalu bagaimana dengan Macan Jawa?” tegas Rizal.

Rizal menegaskan, hutan yang semakin sempit akibat perambahan hutan secara legal dan ilegal, ekspansi pemukiman ke perbatasan hutan, perburuan mangsa seperti babi, monyet, burung, kancil, dll, berlangsung dengan massif dan dengan sendirinya ikut serta menyumbangkan kerusakan habitat Macan Jawa. “Upaya pemerintah melalui program Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa 2013-2023, perlu didukung oleh pihak-pihak berkepentingan, termasuk kita kalangan organisasi pecinta alam yang salah satu kegiatannya adalah konservasi,” tuturnya.

Sementara menurut Ketua Mapella, Hendra “Bogel”, disebutkan bahwa macan Jawa bukan saja satwa endemik (khas) Pulau Jawa. Tetapi juga bagian dari identitas Nasional yang memiliki keragaman satwa. “Bisa kita bayangkan jika satwa ini punah. Saat ini Harimau Jawa hanya bisa kita lihat patung-patungnya saja di Kodam III Siliwangi yang menjadikan harimau sebagai lambang kesatuannya. Demikian juga dengan Macan Jawa, terutama macan kumbang (hitam), ‘sisanya’ hanya ada di kantor-kantor Kepolisian Daerah Jawa Barat dalam bentuk patung (Polda Jabar menjadikan Macan Kumbang sebagai lambang kesatuannya),” seloroh Hendra.

Hendra juga menegaskan, kesembangan ekosistem harus dilihat secara komprehensif dan general. “Kita tidak bisa melihat persoalan Macan Jawa ini dengan fokus pada wilayah hutan saja, tetapi bagaimana kebijakan pemerintah dan bagaimana pelaksanaanya. Lalu bagaimana dengan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan hutan. Bahkan penduduk kota pun bisa ‘sangat bertanggungjawab’ karena mereka didasari atau tidak, secara langsung atau tidak, ikut menikmati eksploitasi hutan yang menyebabkan semakin tersingkirnya habitat Macan Jawa. Kami berpendapat, hutan yang sehat menunjukkan masyarakat yang maju dan sehat,” cetusnya.(Humas Mapella 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published.