ARTIKEL

UJIAN JIWA KORSA (MUNDUR ATAU LANJUT?)

chn_2854Oleh: Dedy Rahmat / L.977466.HR

Jiwa Korsa. Istilah yang satu ini tentunyabagian dari doktrin-doktrin ala militer yang sering kita dengar. Tidak terkecuali bagi organisasi-organisasi pecinta alam yang memang salah satu proses pendidikanya melalui tempaan mental-fisik, dan ideologi organisasi. Disadari atau tidak, sebagian kecil proses pendidikan “ala militer” diadopsi dan dikembangkan para aktivis organisasi pecinta alam. Dari sekian doktrin yang ditanamkan organisasi yaitu dalam memupuk dan membina hubungan antarpersonil itu, salah satu yang sering diucapkan, tidak lain mengenai “Jiwa Korsa” itu sendiri …

Ada yang menyebut bahwa “Jiwa Korsa” itu terkait dengan solidaritas, yang berarti sifat satu rasa (senasib), perasaan setia kawan antara sesama anggota. “Espirit de corps” (loyalitas, semangat, dan kerjasama tim) tentunya melekat pada tiap anggota berjiwa “korsa”itu. Pendidikan dan Latihan Dasar/Pendidikan Dasar pecinta alam, tentunya sudah menanamkan jiwa korsa itu sejak proses pendidikan sebegai tahap awal pembentukan calon anggota. Dengan berbagai pola tempaan mental, fisik, dan pembentukan karakter organisasi, biasanya “sukses” mengantarkan siswa yang akhirnya jadi anggota baru (seluruh jenjang pembinaan anggota yang kurang lebih selama 1 tahun).

Tetapi persoalannya apakah anggota baru tersebut akan bertahan hingga proses program pembinaan berjenjang rampung ? Dimana pembinaan berjenjang itu, kurang-lebih;Pendidikan dasar, Pembinaan Lanjutan/Program Pengmbaraan, dan Kursus Pelatih (Calon Komando Latihan Pendidikan Dasar).

“Kasus klasik” yang terjadi adalah dimana satu-persatu anggota baru yang dicetak lewat pendidikan dasar mulai “berguguran” pada tahap program pembinaan anggota muda. Alasan beragam muncul, mulai dari; “orangtua tidak mengizinkan; merasa program pembinaan mengganggu aktivitas perkuliahan, dan beragam alasan pribadi, hingga sekretariat yang dianggapnya tidak lagi memberikan rasa nyaman”. Intisari dari persoalan bergugurannya anggota muda tersebut sudah pasti jadi beban berat bagi dewan pengurus.
Kembali ke persoalan jiwa korsa …

Yang menjadi pembeda penanaman jiwa korsa pada dunia militer dan organisasi pecinta alam mungkin persoalan tanggungan hak dan kewajiban yang berbeda. Militer diikat dengan bangsa dan negara melalui UUD 145 dan pemerintah bertanggungjawab terhadap kesejahteraan prajurit (melekat dan wajib hukumnya). Sementara pada organisasi pecinta alam, tentu sangat berbeda, karena nyaris “tidak ada” kesejahteraan yang diatur secara formal dimana organisasi “bertanggungjawab terhadap kesejahteraan anggota”. Pendek kata, doktrin jiwa korsa di sini, ditanamkan dengan berbagai pola sukarela, yaitu “suka” dan “rela”.
“Suka” berarti kita menyukai apa yang kita lakukan, dan “rela” dalam arti ikhlas menjalankan.

Jangan pernah kita lupakan “kultur organisasi”. Sekecil apa pun, tiap organisasi memiliki keragaman budaya namun dengan tujuan yang sama, yaitu membangun “Jiwa Korsa” yang identik dengan “setia kawan, satu nasib, loyalitas, dan kerjasama tim”. Nah, terkait dengan apakah anggota muda akan bertahan/gugur dalam “seleksi alam” yang sesungguhnya/saat program pembinaan yang lebih mengutamakan tempaan “mental dan intelektual” ada hubungannya dengan “Jiwa Korsa”?

Tentu ada hubungannya, dan mungkin saja ada sebabnya! Pertama, mungkin dewan pengurus yang tidak “fleksibel” menghadapi karakter anggota muda yang beragam”. Kedua;Program yang salah! Mungkin juga anggota muda yang pada dasarnya “menolak program pola pembinaan” yang menurut mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan? (Bisa saja. Karena “ekspektasi” mereka mengenai “pencinta alam” terbatas kepada mereka yang hanya mencintai mendaki gunung tanpa mencoba memaknai hakikat dari mendaki gunung dalam kehidupan sehari-hari, dimana di situ juga terdapat makna “loyalitas/jiwa korsa”).

Dalam proses pembinaan anggota pada organisasi pecinta alam, mungkin tidak akan pernah luput dari persoalan anggota yang bertahan dan gugur dalam seleksi yang sesungguhnya, yaitu ketika mereka menjadi anggota dan melaksanakaan program pembinaan, atau apa pun namanya. Pada tahap ini dewan pengurus tentunya jauh lebih banyak menggunakan “otak” ketimbang “fisk”. Dimana kita “sibuk” menanamkan arti jiwa korsa itu dalam aktivitas oraganisasi, baik formal maupun informal.

Namun,seleksi alam tetap seleksi alam! Kesetiakawanan dimana kita sebagai sebagai salah satu anggota dari keluarga besar dalam sebuah organisasi tu, sesungguhnya sering “diuji” dalam berbagai rangkaian tempaan mental-fisik-ideologis yang ternyata jauh lebih berat didapatkan pada proses pembinaan anggota muda yang nyaris tidak ada bentuk-bentuk pemaksaan pemahaman secara “fisik”. Walaupun tidak semuanya, dalam benak anggota muda penolakan terhadap program, tuntutan kewajiban, adaptasi terhadap kultur organisasi yang kadang bertolakbelakang dengan kepentingan pribadi, dll, mungkin pernah membuat “gamang” antara aktif, nonaktif, hingga mengundurkan diri sebagai anggota.
Solusi !!!

Kata “PERCAYA” adalah kuncinya, ingatlah makna filosofis saat kita melakukan repling pada medan ekstrim. Untuk menumbuhkan semangat dan keberanian para calon pelaku repling diingatkan agar “PERCAYA PADA TUHAN, PERCAYA PADA DIRI SENDIRI, PERCAYA PADA TEMAN, DAN PERCAYA PADA ALAT”, dalam penjabaran sehari-hari kira-kira tercermin dalam karakter “TEGUH DALAM SIKAP DAN PERILAKU, SERTA BERANI DALAM MEMUTUSKAN DAN MELAKSANAKAN NILAI KEBENARAN”.

Artinya “Percaya” atau segala macam bentuk kepercayaan dimana disitu tercermin kesepahaman dalam bersikap, yang notabene adanya di dalam pikiran, atau orang umum sering menyebutnya “ada di hati”, itu adalah kunci keberhasilan program pembinaan. Percaya bahwa apa yang disampaikan dewan pengurus, pemateri/pelatih, dll memiliki misi dalam kaderisasi dan visi untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang kelak akan terjun dalam kehidupan sosial yang nyata. Baik/buruk tiap proses pembinaan yang dijalankan dewan pengurus semata-mata hanya terkait itu.

“Kepercayaan” atau hal-hal yang berbau mental ideologis ini, timbul dari hati yang terdalam, yang lahir dari JIWA KORPS/SOLIDARITAS yang tertanam dan dikembangkan terus menerus, dengan doktrin “tidak ada anggota yang terlatih, yang ada adalah anggota yang terus berlatih!”, artinya bukanlah sekedar kewajiban anggota muda untuk melatih mental dan fisiknya, tetapi kita seluruh anggota memiliki kewajiban sama.
Ketika kita ragu, apakah kita perlu mundur/berhenti atau lanjut sebagai anggota, sesungguhnya kita sedang diuji mengenai makna “Jiwa Korsa” tadi karena kesetiakawanan itu tidak hanya melekat pada diri pribadi maupun angkatan, tetapi dalam konteks “keluarga besar”.

Jiwa korsa yang tinggi sesungguhnya tercermin dalam pikiran. Dengan “akal sehat” yang memiliki komitmen terhadap kesetiakawanan, kesatuan dan semangat kerjasama tim, maka sudah barang tentu tercermin dalam perilaku dan kehidupan organisasi, dimana di situ ada berbagai karakter yang memiliki “JIWA KORSA YANG SAMA”.

Bersamaan, kita pernah berada dalam kondisi kelaparan, kehausan, merasa marah, dan kecewa. Tetapi kita juga pernah merasa sama-sama bahagia. Pahit, getir, suka/duka, kecewa/bahagia, adalah dinamika kehidupan organisasi yang menyentuh secara institusi dan individual. Dalam kondisi itulah kita sering diuji “jiwa korsa” kita, dimana tuntutannya adalah dalam situasi apa pun tetap bersatu, satu naungan dalam semangat organisasi yang sama.

Tidak mudah menanamkan JIWA KORSA itu, bagi mereka yang masih bertahan, anda teluh lulus seleksi “calon anggota” yang sesungguhnya dimana kita ditempa untuk teguh terhadap doktrin organisasi meskipun kadang tidak selaras dengan pikiran emosional semata.

Di saat kawan-kawan kita berguguran/”terseleksi alam”, maka yang tersisa itulah yang memiliki “JIWA KORSA YANG SAMA!”

“KITA BERSATU DAN SELALU SATU!”

Berpkir jernih,rileks, lebih dalam…jauh lebih dalam … lebih dalam lagi …
BERPIKIRLAH DUA KALI UNTUK MUNDUR …
TAPI JIKA; “RAGU-RAGU? KEMBALI!” ….

Oleh: Dedy Rahmat / L.9774.66.HR

Leave a Reply

Your email address will not be published.