DIKLATSAR

MEMBENTUK KARAKTER MAHASISWA MELALUI DIKLATSAR ANGKATAN XXV

POSTER-DIKLATSAR-MAPELLA-20SALAM RIMBA – Perkembangan tekonologi informasi saat ini, baik melalui internet, seluler maupun alat-alat informasi lainnya telah merangsang masyarakat untuk berpetualang. Kini, hobi petualangan seperti naik gunung misalnya, telah menjamur ke berbagai kalangan dan memang bukan lagi dominasi para penggiat yang tergabung dalam organisasi pecinta alam, tetapi sudah milik masyarakat secara umum. Demikian dikatakan Ketua Mapella, Hendra Hidayat (NRP.L.1294122.WP), kepada Humas Mapella, Sabtu (07/11/2015).

Keadaan ini memiliki dua dampak, baik secara positif maupun negatif. Di satu sisi hal ini menunjukkan sebuah trend baru bahwa hiburan atau hobi itu tidak selalu harus ada di perkotaan dengan segala hiruk-pikuknya tetapi juga bisa dilakukan di hutan dan gunung yang jauh lebih tenang dan sedikitnya memberikan makna mengenai kecintaan terhadap lingkungan hidup. Namun di sisi lainnya, hobi baru ini juga bisa berdampak negatif ketika kita hanya menjadi ‘penikmat’ alam belaka tanpa dibekali ilmu dan pengetahuan yang memadai mengenai hakikat kita dalam memanfaatkan alam sebagai media penyaluran hobi kita.

“Dimana, pada dasarnya antara pendaki gunung dengan alam sekitarnya memiliki komitmen yang tidak terpisahkan di antara keduanya, yaitu untuk saling menjaga dan memiliki hubungan simbiotik mutualisme,” tutur Hendra.

Hendra menegaskan, fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Mapella Unla untuk ikut serta menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup bagi para penggiat alam bebas, khususnya dalam Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Mahasiswa Pencinta Alam Langlangbuana Angkatan XXV yang tidak lama lagi akan digelar. “Persoalan lainnya banyak masyarakat beranggapan, baik secara sadar atau tidak, bahwa naik gunung itu berbau machoisme dan menjadi ‘keren’ ketika dibuktikan melalui gambar-gambar selfie,” tuturnya.

Hal tersebut, lanjut Hendra, bukan sebuah kesalahan dan sah-sah saja jika masyarakat banyak yang beranggapan demikian dan itu adalah hak bagi siapa pun. “Tetapi machoisme, atau selfie-isme itu ibaratnya ‘bumbu penyedap’ saja dalam aktivitas petualangan. Karena, inti dari berbagai hobi petualangan itu dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang keilmuan, khususnya yang berhubungan dengan kepencintaalaman,” cetusnya.

Untuk itulah, Hendra menekankan, dalam Diklatsar Mapella filosofis yang ingin ditanamkan kepada siswa adalah bagaimana kita mampu menempa diri melalui sebuah mekanisme pendidikan di alam terbuka agar kita tangguh menghadapi berbagai situasi dalam medan latihan yang bervariatif. Makna lainnya adalah bagaimana kita menempatkan Diklatsar Mapella sebagai ajang melatih diri agar peka terhadap persoalan lingkungan hidup dan sosial (berlatih untuk kemanusiaan-Red). Sementara makna dari berpetualang dalam Diklatsar Mapella, adalah bukan sekedar menjelajahi medan tertentu, tetapi bagaimana menempatkan petualangan itu untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air (nasionalisme-Red).

“Naik gunung identik dengan mencapai puncak tertinggi dan berbau prestasi. Tetapi sesungguhnya dalam konteks tertentu pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Karena, ‘prestasi’ yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menempatkan petualangan sebagai proses pendidikan yang ikut serta membentuk karakter manusia yang tangguh dan siap terjun dalam kehidupan sosial yang sebenarnya dengan dibekali ilmu kepencintaalaman,” demikian Hendra Hidayat. (Humas Mapella, 2015)    

Leave a Reply

Your email address will not be published.