ARTIKEL

PENGEMBARAAN MAPELLA FOKUS KAJI KEBERADAAN MACAN JAWA

Oleh:
Dedy Rahmat / NRP.L.977466.HR

Video dan foto Macan Tutu/Kumbang, banyak dihasilkan dari wilayah Gunung Gede-Pangrango, dan Gunung Salak
Video dan foto Macan Tutu/Kumbang, banyak dihasilkan dari wilayah Gunung Gede-Pangrango, dan Gunung Salak
Macan Tutul dan Macan Kumbang, spesies yang sama dari Javan Leopard atau dikenal dengan nama latin Panthera Pardus Melas, adalah satu-satunya jenis kucing besar yang diyakini berbagai pihak sebagai satu-satunya yang tersisa di pulau Jawa. Jenis kucing besar lainnya yang pernah ada di pulau Jawa adalah Harimau Jawa, yang dipercaya telah punah sejak tahun 1980. Berbagai penelitian pernah dilakukan untuk membuktikan bahwa Harimau Jawa masih ada (terutama penelitian pada sejak akhir 90-an sampai dengan sekarang). Namun, hingga detik ini mereka tidak mampu membuktikan bukti fisik yang nyata selain temuan feces (sisa kotoran), dan jejak kaki, yang sedikit meragukan dan menimblkan perdebatan karena memiliki kemiripan dengan jejak dan kotoran macan tutul/kumbang.

Lain halnya dengan temuan keberadaan macan tutul/kumbang, justru hingga saat ini keberadaan mereka di Pulau Jawa masih dapat terdeteksi, bahkan bentuk fisiknya banyak ditemukan melalui temuan rekaman video dan foto di berbagai wilayah pulau Jawa. Namun, saat ini populasinya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Menurut data dari Kementrian Kehutanan RI pada 2013 yang lalu, disebutkan bahwa jumlah macan tutul/kumbang saat ini diperkirakan antara 350-750 ekor pada wilayah penyebaran hutan-hutan di Pulau Jawa.

Kementrian Kehutanan juga menjelaskan bahwa saat ini hewan yang hidup secara solitaire (penyendiri/individual) ini, memiliki wilayah per 10 km2 persegi pada habitat yang tidak terganggu. Sementara pada wilayah hutan-hutan yang terganggu (akibat eksploitasi hutan oleh manusia dan kerusakan akibat bencana alam), mereka hidup pada wilayah 5 km2 per ekor. Kementerian kehutanan juga mencatat bahwa sisa hutan di Jawa tinggal 13,68%, dengan luas wilayah hutan 3.277, km2, di mana diantaranya merupakan tempat penyebaran Macan Tutul Jawa, dimana khususnya di Jawa Barat, data-data yang terkumpul menunjukkan keberadaan mereka di Taman Nasional Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Taman Nasional Gunung Ceremai, wilayah Garut, Ciamis, Kabupaten Bandung Selatan (antara Malabar-Patuha), dll.

Dari penjelasan mengenai kondisi di atas, maka kita dapat memaklumi status keterancaman kepunahan dari hewan yang menakjubkan ini. Karena hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, menyebabkan hewan ini ditemukan sangat terbatas pada wilayah tertentu. Macan Tutul Jawa dievaluasikan sebagai “Kritis” sejak 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Keadaan ini menyebabkan satwa berstatus dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.

Macan Jawa bisa Bernasib Seperti Harimau Jawa, Punah!
Pada awal abad ke-19, Harimau Jawa masih banyak ditemukan di Pulau Jawa. Pada tahun 1940-an, Harimau Jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Pada tahun 1950-an, ketika populasi Harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Pada tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional Meru Betiri (Banyuwangi, Jawa Timur).

Harimau Jawa, sesaat setelah dibunuh, di wilayah Priangan Bandung Selatan tahun 1920
Harimau Jawa, sesaat setelah dibunuh, di wilayah Priangan Bandung Selatan tahun 1920
Ada kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun 1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari Harimau Jawa ialah pada tahun 1972. Pada tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di Pulau Jawa (di Meru Betiri), namun tidak ditemukan tanda-tanda perkembangbiakan, hingga pada 1980 dinyatakan punah.

Dapat kita bayangkan dari data di atas, pada tahun 1950 jumlah Harimau Jawa diperkirakan tinggal 25 ekor, lalu dalam tempo 25 tahun (1979) menurun drastis hingga tinggal 3 ekor. Jadi jika saat ini jumlah Macan Tutul/Kumbang Jawa tinggal 350 ekor, bagaimana dengan 25 tahun ke depan? Apakah terjadi pengembangbiakan yang besar-besaran? Tanpa bermaksud pesimistis, rasa-rasanya jika mengamati perilaku manusia sejak dulu sampai dengan sekarang dalam konteks eksploitasi hutan, tampaknya akan sulit menemui fenomena seperti itu (walaupun dengan berbagai upaya, bisa saja terjadi). Jika kita berpatokan kepada pengalaman hilangnya Harimau Jawa dari permukaan bumi (Harimau Jawa saja saat ini bisa dikatakan telah mengikuti “jejak Dinosaurus” yang tinggal jadi catatan sejarah lampau peradaban “hewan kuno”), maka kondisi pada Macan Tutul/Kumbang sangat mungkin terjadi, hingga suatu saat nanti tinggal menjadi mahluk penghuni museum berbentuk fosil dan tubuh yang diawetkan alias Macan Tutul/Kumbang Jawa jadi “kenangan indah di masa lampau”.

Tradisi Rampogan Macan yang Mengerikan
Selain perburuan liar, Harimau Jawa yang bisa kita simpulkan telah punah dan semakin sedikitnya populasi Macan Tutul dan Kumbang juga diakibatkan aktivitas seni-hiburan rakyat yang terjadi di masa lampau. Seperti halnya budaya Rampokan Macan (Rampok Macan) di Kediri antara tahun 1890-1925. Rampokan macan adalah upacara kurban Jawa yang berlangsung selama abad ketujuh belas sampai awal abad kedua puluh. Awalnya dilakukan dalam alun-alun kerajaan Jawa saja, rampokan macan terdiri dari dua bagian: Sima-Maesa, pertarungan di kandang antara kerbau dan harimau dan rampogan sima yang beberapa harimau diposisikan dalam lingkaran para pria bersenjatakan tombak dan akan mati apabila mencoba melarikan diri.

Selama abad kedelapan belas dan abad kesembilan belas, terutama sejak VOC melarang tradisi tersebut pada tahun 1905, simbolisme ritual rampokan macan melemah dan upacara secara bertahap menjadi acara atau festival. Atribut royalti Jawa, itu digunakan oleh kaum bangsawan, priyayi untuk menunjukkan kekayaan dan kekuasaan kaum pangeran bangsawan. Rampokan Macan juga dipandang sebagai perjuangan politik simbolis antara VOC dan Pemerintah Jawa. Budaya Rampokan Macan tidak saja menjadikan Harimau Jawa sebagai korban kesadisan manusia, termasuk di dalamnya adalah Macan Tutul dan Kumbang seperti terlihat dalam gambar:

Tampak dalam gambar, seekor Macan Kumbang di lepas di tengah-tengah lautan manusia bersenjatakan tombak dalam Tradisi Rampokan Macan
Tampak dalam gambar, seekor Macan Kumbang di lepas di tengah-tengah lautan manusia bersenjatakan tombak dalam Tradisi Rampokan Macan
Pemandangan ini adalah "biasa" dalam Tradisi Rampokan Macan. Tampak Harimau Jawa, Macan Tutul dan Macan Kumbang jadi korban "keganasan" manusia
Pemandangan ini adalah “biasa” dalam Tradisi Rampokan Macan. Tampak Harimau Jawa, Macan Tutul dan Macan Kumbang jadi korban “keganasan” manusia

Dalam Tradisi Rampokan Macan, Harimau Jawa dan Macan Tutul/Kumbang dilepas di tengah-tengah lautan manusia yang bersenjatakan tombak. Naluri hewan liar yang ingin terbebas dari ancaman manusia berusaha melewati pagar manusia tersebut. Saat berusaha kabur, hewan itu dibunuh dengan cara ditusuk oleh tombak secara masal. Sebuah tradisi yang keji dan sama sekali tidak peduli dengan kelestarian ekosistem.

Program Penelitian Kecil Mapella mengenai Keberadaan Macan Tutul/Jawa
Mahasiswa Pecinta Alam Langlangbuana (Mapella-Unla), dalam Program Masa Pengembaraan Anggota Muda Badai Kawah 2014 yang lalu, mengambil salah satu fokus kajian mengenai keberadaan Macan Tutul/Kumbang Jawa yang disinyalir penyebaran populasinya berada di sekitar wilayah Gunung Malabar, 2343 mdpl (Kab. Bandung bagian Selatan).

Melalui teknik wawancara dengan masyarakat sekitar dan aparat BKSDA serta instansi pemerintah lainnya yang berkompeten dalam bidang lingkungan hidup, tim peneliti kecil Mapella saat itu mendapatkan informasi-informasi yang penting mengenai kebenaran adanya kucing besar itu di wilayah tersebut. Suatu temuan yang sangat penting dalam Program Pengembaran Anggota Muda ini adalah keberhasilan salah satu tim (dari 3 tim kecil yang diterjunkan, berjumlah 5 sampai dengan 6 orang personil), yang berhasil menemukan bekas kotoran Macan Jawa di sekitar punggungan Gunung Patuha sebelah Utara.

Ciri-ciri kotoran Macan Tutul/Kumbang yang khas, sesuai dengan temuan tim kecil tersebut, diantaranya adanya sisa-sisa bulu mangsa pada kotoran dan sisa-sisa tulang yang merupakan ciri khas dari kotoran kucing besar. Demikian pula dalam Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsa) Mapella angkatan XXIV pada Februari-Maret 2015 kemarin, tanpa sengaja seorang siswa menemukan bekas kotoran yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan temuan Tim Pengembaraan Mapella di Gunung Patuha pada tahun 2014. Bukan itu saja, bahkan mereka juga berhasil menemukan bekas cakaran pada batang pohon (salah satu kebiasaan kucing besar adalah mengasah kuku). Temuan ini berada di wilayah lembah Gunung Tangkuban Parahu yang berbatasan dengan kebun teh Sukawana dan Situ Lembang.

Berangkat dari pengalaman tersebut, pada Program Pengembaraan Anggota Muda Angkatan Tapak Geni yang dilaksanakan pada Bulan Mei 2015, fokus kajian keberadaan Macan Jawa kembali dilakukan. Hal ini dirasakan perlu sebagai pengembangan dari penelitian sebelumnya, dimana wilayah yang akan diteliti berada pada 2 titik, yaitu Gunung Puntang 2.222 mdpl dan Gunung Malabar 2.343 mdplyang merupakan satu rangkaian gunung yang sama, di Kabupaten Bandung wilayah Selatan.

Penelitian ini diperkuat dengan hasil penelusuran pada youtube, klik: Macan di Pangalengan, yang menunjukkan video amatir oleh maslalang, yang berhasil merekam adanya 2 ekor Macan Jawa (1 ekor Macan Tutul, dan 1 ekor Macan Kumbang) yang terlihat berada di atas sebuah pipa gas geotermal dan satu ekor lagi tampak tengah menyeberang sebuah jalan umum. Belum diketahui pasti pada koordinat mana dalam peta wilayah Kabupaten Bandung bagian Selatan temuan tersebut, namun diperkirakan dari observasi awal Tim Litbang Mapella-Unla, posisinya berada diantara wilayah hutan Gunung Malabar dan Pangalengan.

Penelitian kali ini yang dilakukan Mapella-Unla dilakukan dalam rangka untuk mengetahui lebih pasti mengenai keberadaan dan penyebaran populasi Macan Jawa di wilayah Kabupaten Bandung bagian Selatan. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang menyebabkan terganggunya habitat di wilayah tersebut secara eksplisit (apakah karena perburuan, rantai makanan yang terputus, kerusakan alam, dll).

Macan Kumbang, varian lain dari Macan Jawa. Meskipun terlihat hitam, tetapi tetap memiliki totol/bercak hitam layaknya Macan Tutul
Macan Kumbang, varian lain dari Macan Jawa. Meskipun terlihat hitam, tetapi tetap memiliki totol/bercak hitam layaknya Macan Tutul

Kepedulian Kita Bukan Sekedar Machoisme, tapi Hati Nurani yang Bicara!
Jika bukan kita, siapa lagi yang akan peduli terhadap kelestarian Macan Jawa? Sikap apatisme terhadap lingkungan hidup, bisa jadi menunjukkan sikap egoisme manusia. Disadari atau tidak jika Macan Jawa punah maka bukan sekedar memutus rantai ekosistem, tetapi dampak yang lebih besar adalah ketidakseimbangan ekosistem, sementara manusia akan semakin rakus mengeksploitasi hutan, dan bukan saja predator yang mengalami kerugian tetapi juga mangsa yang semakin sedikit. Jika alam sudah tidak seimbang, maka dampaknya akan terasa hingga ke kota.

Ketika Sang Raja Hutan tidak akan mampu lagi menjadi penjaga belantara, maka hal itu bagaikan simbol bencana selanjutnya. Saat hutan hijau sebagai penyangga kehidupan (resapan air, penghisap karbon dan penyejuk udara, penyeimbang suhu bumi, dll) tidak akan mampu memerankan fungsinya lagi, bukankah itu bagaikan kiamat atau akan menimbulkan bencana lain yang lebih besar? Artinya menyelamatkan Macan Jawa dari kepunahan sesungguhnya hanya bagian kecil dari sebuah upaya menyelamatkan lingkungan hidup yang lebih luas (melestarikan Macan Jawa = melestarikan lingkungan hidup/alam termasuk di dalamnya “melestarikan manusia”).

Lalu sampai kapan kita biarkan manusia jadi predator tingkat tertinggi yang sanggup membabat hewan terganas atau hutan belantara yang paling kejam sekali pun?

(diolah dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published.