ARTIKEL

MUNGKINKAH UNSUR KEHIDUPAN AWAL BERASAL DARI RUANG ANGKASA?

1526977_715450928478510_1865498607_nOleh : Yat Lessie

(Anda pecinta alam ?, sebaiknya simak)

MERUNTUT BENANG KUSUT
Bumi dan tatasurya kita yang konon tercipta sekitar 4,8 milyar tahun yang lalu, dimulai dengan kondisi alam yang gersang tanpa kehidupan. Berbeda jauh dengan kondisi hari ini, dimana alam menyediakan berbagai bentuk mahluk hidup, baik tanaman, binatang dan tentu saja manusia sebagai mahluk yang paling kompleks. Ranah biologi membaginya menjadi mahluk hidup, dan benda mati. Sel dianggap gerbang ketika sesuatu dikatakan sebagai mahluk hidup. Sehingga protein sebagai bahan dasar sel, tetaplah dianggap benda mati.

Pertanyaan yang menggelembung adalah bagaimana awal mula sel ini terbentuk? Lebih mendasar lagi, bagaimana protein pertama tersusun dari rangkaian sejumlah gugus asam amino? Lalu darimana pula asam amino ini berasal?…..

10337738_792088140814788_1040351550433791138_nPENEMUAN UJUNG BENANG

Syahdan pada tahun 1920 an, seorang ahli kimia Rusia I.A. Oparin dan ahli genetik Inggris J.B.S. Haldane, secara terpisah mengetengahkan hipotesa tentang asal muasal kehidupan. Bahwa kehidupan di bumi dimulai dengan proses-proses sederhana. Kehidupan awal bersifat heterothrops yaitu mengkonsumsi langsung bahan-bahan organik disekitarnya untuk menghasilkan energi kimiawi, ketimbang mengambil sumber energi fisik alamiah (autothrops). Sel awal ini hidup dalam atmosfir yang tanpa oksigen. Mereka juga memprediksi adanya sup organik di samudera purba, tempat awal kehidupan pertama terbentuk.

Eksperimen dilakukan pada tahun 1950 oleh ahli kimia Stanley Miller dari University of Chicago di Illinois, dengan mendapat arahan dari pemenang hadiah nobel Harold Urey. Dengan mengambil referensi dari kondisi atmosfir planet Jupiter yang diyakini sama dengan atmosfir primitif dibumi, maka percobaan itupun dimulai. Miller membuat campuran gas methane (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O) dan hidrogen (H2) yang disatukan dalam sebuah tabung. Percikan listrik digunakan sebagai simulasi sambaran petir. Hasilnya luar biasa, percikan listrik menjadi stimulan terbentuknya molekul-molekul organik yang semakin kompleks, yang diantaranya berbentuk 20 jenis asam amino, yang kita tahu sebagai tulang punggung DNA / RNA……..

Nah lho, sekarang ketahuan, ada benang merah antara organisme yang hidup saat ini, dengan nenek moyangnya, yang ternyata asam amino awal tadi berasal dari sup organik di samudera purba bumi ini.

PESTA YANG GAGAL
Sebentar….. !!!, gegap gempita keberhasilan percobaan Miller-Urey ternyata cuma sesaat. Persoalannya karena muncul sanggahan, bahwa atmosfir bumi tidak seperti yang diperkirakan semula, yaitu mirip dengan Jupiter.

Atmosfir bumi primitif, setelah masa jutaan tahun mengalami bombardemen meteorit (contohnya kaya permukaan bulan), kebanyakan mengandung gas nitrogen (N2), Karbon dioksida (CO2), uap air (H2O) serta mungkin sedikit karbon monoksida (CO). Sehingga percobaan Miller-Urey dianggap kurang signifikan untuk kasus pembentukan bentuk kehidupan awal di bumi. Belum lagi dari pembuktian fossil ditemukan bahwa sel-sel awal justru bersifat autothrop bukan heterothrop…… yaaaa enggak jadi deh pestanya.

UNTUNG ADA SAGAN
Adalah seorang Carl Sagan, peneliti dari Univ Cornell di Itchaka New York, yang menemukan bahwa asam amino yang ada dalam meteorit, ternyata bisa bertahan setelah tumbukannya dengan permukaan bumi. Meteor kebanyakan berupa bola es raksasa, yang airnya meleleh paska tumbukan dan menggenangi permukaan bumi seraya menjadikannya samudera purba.

Kesepakatan baru ini muncul, nampaknya bahan-bahan organik sebagai “building-block” awal kehidupan ini didapat dari komet yang jatuh menghujam kebumi. Penelitian atas komet Halley membenarkan hal ini, karena komet selain berupa gumpalan es (ice-ball), juga mengandung berbagai jenis asam amino. Eksperimen dan kalkulasi Carl Sagan membenarkan, bahwa asam amino dan molekul organik lainnya akan sanggup bertahan saat berbenturan dengan bumi, terutama pada fase bombardemen besar dikala bumi primitif.

Artinya penelitian Miller-Urey tidak sepenuhnya sia-sia, karena kondisi seperti atmsofir Jupiter bisa saja terjadi diplanet-planet lain dijagat raya ini, sehingga proses yang terjadi sesuai dengan hasil rekayasa di laboratorium. Saat planet tersebut pecah karena sebuah peristiwa ledakan (contoh supernova) , pecahannya yang mengandung asam-asam amino jatuh kebumi dalam bentuk meteorit, sekaligus sebagai bahan dasar utama pembentuk bangunan dan struktur awal kehidupan di bumi.

DUNIA SATU BENANG.
Stop!… persoalan lain muncul. Yaitu bagaimana gugus-gugus asam amino ini bisa begitu konsisten, sehingga mampu menghasilkan bentuk protein yang seragam? Sehingga mampu membuat sel pertama di muka bumi ini, yaitu sel-sel pro-karyotik? Sel ini hidup selama hampir 2 milyar tahun. Untungnya pro-karyot bernapas terbalik, mengambil CO dan mengeluarkan O2, yaitu oksigen yang kita hisap hingga saat ini.

Jawabannya sudah pasti, yaitu harus ada cetak biru, yang tersimpan dalam bentuk benang RNA (Ribose Nucleic Acid). Sehingga para ahli hampir sepakat, jauh sebelum DNA (Deoksiribose Nucleic Acid) pertama ditemukan, dunia ini diisi oleh RNA sebagai cetak birunya.

John Sepkoski Jr. profesor dibidang paleontologi dan evolusi biodiversity dari Universitas Chicago, menjelaskan bahwa RNA awal ini berjuta kali lebih sederhana, dibandingkan dengan RNA yang kita temui saat ini. Hanya menyimpan beberapa gugus nukleotida basa (basa nitrogen) pada rangkaiannya.

Proses ini terus berlangsung dibanyak tempat, sehingga munculah keadaan bumi yang dirajai oleh RNA, atau sebuah dunia RNA alias RNA world. Apalagi pada tahun 1982 ahli bio kimia Amerika Thomas Cech menemukan fakta baru bahwa RNA bisa bertindak selaku enzym untuk mempercepat proses. Pada tataran ini, proses reproduksi bisa berjalan cepat.

Mutasi yang mengarah pada pembentukan enzym-enzym yang mampu menaikan akselerasi pertumbuhan didapat, maupun berbagai jenis energi tertentu yang didapat dari lingkungannya, maka tak pelak jumlah mereka dengan cepat akan naik berlipat-lipat. Hal ini juga terjadi pada virus maupun bakteria pada saat ini, yang dengan cepat mampu berubah dan berkembang, kemudian memperbanyak dirinya sendiri. Bakteri saat ini, dalam lingkungan yang sesuai, rata-rata mampu bereproduksi dalam 20 menit.

Padahal RNA awal jutaan kali lebih sederhana dari bakteri yang ada pada saat ini, sehingga perbanyakan mereka cukup dalam hitungan detik saja. Fritjof Capra 2004 menambahkan, semua proses tadi bisa saja terjadi dalam gelembung lipid (buih minyak), sehingga pengaruh dari lingkungan luar, secara ideal dapat diminimalisir.
Pendekatan ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Oparin, Haldane maupun Miller, yang lebih pada konsep akon-akon asal kelakon.

Sebuah proses evolusi yang menyertakan molekul-molekul yang semakin kompleks namun berjalan sangat lambat. Sementara penemuan diatas lebih pada pendekatan spontaneous emergences, layaknya sebuah cerita “pemunculan tiba-tiba” yang entah datang darimana, kemudian …ting ! langsung ada dan terjadi dengan begitu saja.

MENGUNTAI DUA BENANG
Lalu kapan DNA mulai muncul? Nampaknya pada lingkungan yang lebih dingin atau pada bagian samudera yang tidak terlampau dekat dengan ventilasi panas vulkanik didasar laut. DNA merupakan struktur yang lebih kuat dan kompleks dalam menyimpan informasi, namun DNA lebih mudah rusak jika dihadapkan pada lingkungan yang terlampau panas, atau dikenai radiasi ultraviolet. Saat bumi masih terlampau panas hal ini akan memicu mutasi. Nampaknya saat bumi mulai mendingin, dan proses-proses mutasi diperlambat, maka saat itulah DNA terbentuk sebagai kebutuhan mahluk hidup yang terus berevolusi semakin kompleks.

Sel yang sudah memintal kumparan DNA, namun belum disekat dalam organel inti sel, melainkan masih bergerak bebas di cytoplasma dinamakan sebagai sel prokaryot alias “pre-nukleus” atau sebelum ada inti, dimana bangunan struktur sel masih sangat sederhana. Perkembangan lanjutan pada struktur sel yang lebih kompleks, dengan pemisahan ruang / organel lebih lengkap pula, termasuk keberadaan inti sel, dikelompokan sebagai sel eukaryot, alias “true-nukleus”. Sebuah awalan bagi pembentukan organisme yang semakin kompleks.

PERENUNGAN
Jika dugaan dan perhitungan para ahli ini benar, maka tak pelak, bahwa kita sesungguhnya turunan dari sang cosmos. Asam amino yang menghubungkan kita dengan planet lain di ruang-angkasa. Dan bahwa kita nyata nyata sesungguhnya berasal dari stardust, yang terus bergerak dan berubah, semata-mata untuk mengikuti jalur skenario agung. Illahiah…..

Wallahualam.

(Penulis: Yayat Lessie, Anggota Jana Buana-IMT-Cimahi angkatan II tahun 1971, bekerja di TRAPAS KORP)

sumber (klik):yat.lesie facebook

2 thoughts on “MUNGKINKAH UNSUR KEHIDUPAN AWAL BERASAL DARI RUANG ANGKASA?

  1. Dan hanya Islam satu-satunya agama yang dalam mengimaninya harus dengan berpikir…..subhannallah…terimakasih sudah membuka ruang untuk berwacana….

Leave a Reply

Your email address will not be published.