BERITA

MENEROPONG GUNUNG MANGLAYANG, 1818 MDPL

2522_1031775082843_1120304_nOleh: Dedy Rahmat/NRP. L.977466.HR)

GUNUNG Manglayang, Kabupaten Bandung, namanya mungkin “kalah tenar” dari gunung-gunung lainnya di “Tatar Sunda”. Gunung Manglayang memang tidaklah setinggi gunung-gunung lainnya di Jawa Barat. Dengan ketingian 1818 mdpl, melalui perjalanan sekitar 3-4 jam dari kaki gunung, kita sudah bisa mencapai puncaknya. Walaupun tidak tergolong gunung yang tinggi, tetapi pemandangan yang ditawarkan gunung ini sangat luar biasa. Di puncak Timur Manglayang, kita bisa menikmati keindahan hutan yang sangat luas (ke arah Kab. Sumedang), dengan pohon-pohon besarnya yang masih perawan, sehingga saat menarik nafas akan terasa bau khas hutan di hidung kita.

Jika kita mendaki melalui jalur Jatinangor, akan terlihat kampus-kampus universitas terkenal di Jawa Barat, yang tampak indah dengan bangunan-bangunan yang megah. Pemandangan akan semakin menakjubkan jika kita melakukan perjalanan saat malam hari dengan tujuan transit satu malam di objek wisata Batu Kuda, sepanjang perjalanan menuju kaki gunung, mata kita akan “tersihir” oleh indahnya lampu-lampu Kota Bandung yang bersinar layaknya “jutaan kunang-kunang”.

Kabut tebal yang sering muncul di sepanjang perjalanan dan puncak Gunung Manglayang, menambah keanggunan gunung ini. Tidak seperti halnya gunung-gunung tinggi lainnya, kabut tebal di Gunung Manglayang relatif tidak membahayakan dan meskipun jalur pendakian tertutup kabut, kita masih bisa melakukan perjalanan.

Gunung_Manglayang

 

Objek Wisata Batu Kuda

Di wilayah kaki Gunung Manglayang terdapat objek wisata Batu Kuda. Di sekitar lokasi kita akan melihat batu-batu besar yang terserak dengan ukuran yang bervariatif. Berdasarkan keterangan masyarakat sekitar kaki Manglayang, konon batu-batu yang berserakan di sekitar Wisata Alam Batu Kuda ini berasal dari letusan Gunung Sunda Purba ribuan tahun lalu, karena Gunung Manglayang merupakan salah satu tebing dari Gunung Sunda Purba.

Yang paling unik dari sekian banyak batu-batu yang berserakan di Batu Kuda adalah adanya sebuah batu yang cukup besar. Batu berukuran raksasa itu mirip sekali dengan seekor kuda, “ukiran alam” yang menakjubkan. Keunikan bentuk batu inilah yang menjadi dasar mengapa lokasi wisata ini dinamakan Batu Kuda.

Berwisata alam di Batu Kuda memiliki keunikan tersendiri. Apalagi jika cuaca cerah, di siang hari kita bisa menikmati indahnya Kota Bandung sambil menghirup bau has hutan pinus yang menyegarkan. Sementara pada malam hari, kita akan menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu Kota Bandung, dan bintang-bintang yang berserakan di langit. Sinar lampu kota dan bintang bagaikan paduan “rekayasa manusia dan alam” yang sengaja diciptakan untuk membuai mata kita.

“Bercengkrama dengan alam” di Batu Kuda saat fajar tenggelam begitu menyenangkan. Obrolan santai dengan rekan ditemani secangkir kopi hangat membuat tentram hati kita. Sementara ketika pagi menjelang, kita akan dihibur oleh siulan burung-burung dari berbagai jenis yang seolah telah terlatih untuk membentuk suatu irama yang harmonis. Sejenak, kita akan terlupa oleh penatnya kehidupan kota yang memiliki “sejuta” masalah.

(Sumber: Dedy Rahmat, dokumen Tabloid “Teropong Mapella”, Edisi II tahun 2014)

 

manglayang 1GUNUNG MANGLAYANG. Sumber (klik): wikipedia.org

Gunung Manglayang terletak di Kabupaten Sumedang – Jawa Barat yang memiliki ketinggian 1818 mdpl. Gunung ini memiliki cukup banyak jalur pendakian, antara lain; melalui Bumi Perkemahan atau Wanawisata Situs Batu Kuda (Kab. Bandung), Palintang (Ujung Berung, Kab. Bandung), Baru Beureum/Manyeuh Beureum, Jatinangor

Saat tiba di Kawasan Barubereum terdapat warung makan, untuk jalur pendakian mengikuti jalur berbatu ke arah kiri, sedangkan ke arah kanan yang melewati barisan warung adalah jalur menuju tempat perkemahan. Jalur ini diawali dengan melewati aliran sungai kecil, kemudian dilanjutkan dengan kebun jeruk nipis penduduk. Dari awal pendakian sampai puncak, gunung ini terbilang vertikal tanpa bonus, sangat cocok dijuluki “kecil-kecil cabe rawit”. Kondisi fisik jalur pendakian dimulai dengan tanjakan tanah liat diselingi tanjakan berbatu, keseluruhannya sangat licin dan merupakan jalur air, sehingga sangat tidak direkomendasikan melakukan pendakian pada musim hujan.

Jalur pendakian gunung ini tidak dilengkapi dengan pos/shelter karena jarak dan waktu tempuh yang cukup singkat, 2 jam jalan normal. Untuk lokasi membangun tenda hanya bisa dilakukan di Puncak Bayangan dan Puncak Manglayang. Jalur yang jelas ini akan berpisah di persimpangan, tren vertikal ke kiri adalah arah menuju Puncak Bayangan dan trend landai ke kanan adalah menuju Puncak Manglayang. Untuk membangun tenda sangat direkomendasikan di Puncak Bayangan, meskipun tempatnya tidak luas hanya berkapasitas 4-5 tenda, namun pemandangannya sangat terbuka, serupa seperti berada di Puncak Cikuray.

Titik air gunung ini hanya ada di sungai kecil saat awal pendakian, selebihnya tidak ditemukan sumber air. Sepanjang jalur hutan tropis tidak begitu lebat menjadi santapan yang cukup melindungi pendaki dari panas matahari. Secara personal saya merekomendasikan pendakian pada malam hari, selain tidak panas kita juga dimudahkan dengan tidak melihat langsung terjalnya jalur pendakian.

Turun dari gunung ini juga tidak bisa dibilang mudah, jalur yang kecil dan licin sangat memperlambat mobilitas. Satu hal yang penting dari gunung ini adalah ketika malam hari yang cerah, karena tidak begitu tinggi lampu-lampu kota Bandung terlihat begitu jelas dari Puncak Bayangan. Sedangkan di Puncak Manglayang tidak dapat melihat apapun selain rimbunnya hutan dan 1 kuburan.

Sedangkan untuk jalur pendakian melalui Batu Kuda bisa ditempuh dalam jarak 1,5 jam. Pendakian dilakukan dengan jalan santai dan istirahat sejenak untuk “mengambil napas” dan minum beberapa teguk air.Jalur pendakian melalui Baru Kuda masih lebih bersahabat dibanding jalur pendakian melalui Barubeureum.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.