ARTIKEL

2015 – MATAHARI TANPA SUNSPOTS ….

10170750_779201015436834_78Oleh: Yat Lessie

2015 – MATAHARI TANPA SUNSPOTS
DAN MUNCULNYA GENERASI DAN PEMIMPIN BARU
YG LEBIH CERDAS DAN ARIF … ???

Ini judul apaan?
judul-judulan apa bikin-bikinan?

Memang aneh, tapi ada fakta dibalik itu semua. Keberadaan sunspots yang maksi di tahun 2012 – 2013, yang bisa mengkiamatkan nano-teknologi dibidang telekomunikasi, sesungguhnya masih menyimpan sejumlah misteri.
Sejumlah data menunjukan, bahwa intensitas kekuatan medan magnetik sunspots menurun terus sejak tahun 1990 an, dan ditahun 2009 yang lalu, hanya tinggal 60% saja. Dari 3200 gauss ditahun 1995, tinggal 2000 gauss saja ditahun 2009. Ekstrapolasi menunjukan bahwa ditahun 2015 kelak, kekuatan sunspots hanya tinggal setengahnya saja dan akan terus mengalami penurunan. Dalam bahasa astronomi disebut minimum sunspots (lihat grafik).

Apa pengaruh jika matahari kehilangan sunspots-nya?
Jetstream sunspots matahari mempengaruhi intensitas angin-matahari (solar wind) yang menyapu seluruh orbital planet dari mercurius sampai pluto. Solar wind ini sesungguhnya adalah partikel kecil neutrinos ( 20.000 kali lebih kecil dari elektron ), yang merupakan sisa masssa (rest-mass) dari proses nucleosintesis / fusi nuklir pada inti matahari ( E=mc2 , sisa dari m ). Jika kekuatan angin matahari ini melemah, maka sinar dan debu kosmik akan dengan mudah memasuki atmosfir bumi. Mirip kaca mobil yang dipenuhi debu, lumpur dan air saat hujan, dan solar wind berfungsi selaku wipernya.

Debu kosmik terkumpul di atmosfir dan akan menghalangi sinar matahari masuk ke permukaan bumi, dan bisa dipastikan saat itu bumi akan mendingin. Postur bumi dibagian utara lebih banyak daratannya dibandingkan dibelahan selatan, jadi pasti lebih dingin. Air yang teruapkan dari belahan selatan, jatuh dibagian utara bumi, dan perlahan menjadi bongkahan es yang membesar.

Apabila hal ini terjadi, maka kita akan memasuki jaman es kecil, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1645 – 1715 yang lalu, dimana musim dingin lebih panjang dan lebih ekstrim menusuk tulang. Para ahli menunjuk tahun 2015 sebagai awalan jaman es itu dimulai, ya betul !, cuma 3 tahun lagi kita akan memasuki Global Cooling, dan suhu rata-rata akan turun 1-2 derajat.

KEARIFAN ALAM
Sejak awal abad 19 yang lalu ketika manusia memasuki tahap revolusi industri, dimana sistem ekonomi memicu pada persaingan global, maka industralisasi dengan segala implikasinya ditempuh dengan penuh resiko. Mulai dari eksploitasi sumber daya alam sampai penggunaan minyak bumi habis-habisan. Konon kita saat ini lebih modern dari sebelumnya, namun peradaban pula yang menciptakan residu yang nyaris tak mampu kita eliminir.
Salah satunya adalah Global Warming (pemanasan global), bumi memanas terus setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya efek rumah kaca. Salju di Cartenz pyramid menyusut, Gletzer raksasa di kutub mencair, memasukan aliran air tawar ke samudera lepas serta mempengaruhi arus laut, menggenangi pantai-pantai rendah. Ujungnya iklim menjadi tidak karu-karuan lagi, cuacapun semakin sulit ditebak.

Usaha badan-badan dunia untuk menahan laju Global Warming, seperti bunyi jatuhnya jarum ditengah keriuhan pasar malam, nyaris tak terdengar. Dibutuhkan sebuah kekuatan yang jauh lebih besar untuk menghentikan nafsu rakus para kapitalis industralis ini, seraya menyelamatkan manusia dan mahluk hidup dari kepunahannya.
Dan, nun jauh disana, 150 juta kilometer dari bumi ini, sang mentari maphum. Penghentian sementara aktifitas sunspots, akan membuat bumi memasuki fase Global Cooling yang bisa berjalan selama berpuluh tahun. Sebuah bentuk perlawanan terhadap Global Warming, sekaligus mengingatkan kita semua akan adanya kekuatan lain di alam semesta ini, yang juga sama sama berkesadaran.

H I K M A H .
Belajar dari pengalaman masa lalu, setidaknya 2 kali jaman es besar yang terdekat, yaitu fase Mindel 200.000 th yang lalu, dan fase Wurz 50.000 tahun yang lalu. Saat rotasi eliptik bumi pada titik yang paling jauh dari matahari, dan pergeseran sudut inklinasi dari 23,5 menjadi 24,5 derajat lintang utara dan selatan, bumi masuk kejaman es besar, yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.

Anehnya, setiap jaman es datang, muncul species mahluk baru yang lebih tinggi tingkat intelektualnya. Fase jaman es mindel menelorkan spesies baru manusia Neanderthal. Raksasa homo sapiens dan volume otaknya sudah sama dengan manusia saat ini, yaitu 1350 gr laki laki dan 1260 gr bagi perempuan. Pada jaman es berikutnya, 50.000 tahun yang lalu, muncul pula spesies paling akhir, yaitu homo sapiens-sapiens dan dikenal dengan nama manusia cro-magnon, alias kaya kita kita ini. Tubuh mengecil dibanding Neanderthal dan volume otak tetap (ratio berat membesar), alias semakin cerdas pula. Mahluk paling cerdas ini dideteksi mulai ada sejak 120 ribu SM di daerah Afrika timur.

Pada jaman es besar ini, intensitas dan pulsasi magnetik bumi relatif kecil terpengaruh oleh medan magnetik matahari, karena jaraknya paling jauh. Medan magnetik bumi 0,5 gauss, dengan pulsasi 10 Hz ( Earth Schumann Wave) adalah kondisi ideal dimana gelombang alpha di otak bekerja sangat efektif. Penelitian Dr.John Zimmerman pada penduduk primitif, yang juga ternyata menggunakan ketukan ini untuk proses-proses pengobatan tradisional mereka.

Akhir abad 17 dan awal abad 18, juga terdapat jeman es kecil, dan menghasilkan banyak ilmuwan pasca Newton, dan menggiring budaya manusia pada peradaban modern saat ini. Mulai dari kemajuan pada bidang biologi, fisika, psikologi, dll. Mulai dari Maxwell, Planck, Einstein, Heisenberg, William James, dll.

MUNGKINKAH?
Abad 21 adalah abad peralihan, sebuah pergantian peradaban dan kebudayaan manusia. Bergerak dari modern ke post modern, dari paradigma materialistik, mekanistik dan deterministik menjadi lebih holistik, sistemik dan organismik. Sebagian lagi mengatakan perubahan dari budaya materialis menjadi lebih spiritualis. Seperti yang diungkap oleh Capra dalam Hidden Connection, bahwa para CEO dan pemimpin perusahaan besar dunia lainnya, kelak kedepan bukan lagi dijabat oleh para ahli ekonomi atau manajemen, namun para sufi dan filsuf, yang jauh bisa memahami arti dan hikmah tersirat dibanding yang tersurat semata.
Atau mungkinkah ini bagian dari konsep co-evolution, yaitu evolusi bersama antara khalifah dengan alam semesta ini ?…

seraya memunculkan generasi baru,
pemimpin baru yang lebih cerdas dan arif , entahlah.Apapun itu,
jika kita ambil kata kenangan
dari mendiang Paclav Havel mantan presiden Ceko
…… Another World is Possible !

Ya memang …. Siapa tahu ?

(Yat Lessie, penulis adalah anggota Jana Buana-Cimahi, bekerja di TRAPAS CORP)

2 thoughts on “2015 – MATAHARI TANPA SUNSPOTS ….

Leave a Reply

Your email address will not be published.