BERITA

OPERASI SAR SUKHOI SUPERJET 100

1.-CATATAN-OPS.-SUKHOI.-INDRA-YUDHA
Oleh: Indra Yudha Pratama

(Catatan Perjalanan OPERASI SAR KORBAN SUKHOI SUPERJET 100, tahun 2012)

SUASANA Sekretariat Mapella, Rabu (09/05/2012), agak sepi, hanya segelintir anggota yang stand by di sekre (begitu kami biasa menyebut base camp kami) tanpa aktivitas yang serius. Saya, Wanto, Kang Demank, Kang Dedy, dan Kang Agen, asik menonton salah satu acara hiburan di saluran Trans Tv. Sekitar pukul 15.30 WIB muncul headline yang menggemparkan, sebuah pesawat komersil Sukhoi Superjet 100 dilaporkan hilang, setelah lepas landas pukul 14.30 WIB dari Halim Perdanakusuma dalam rangka demo terbang dihadapan sejumlah calon pembeli dari kalangan pebisnis transportasi udara Nasional.

Kejadian seperti ini rasa-rasanya memang langka. Sepertinya tidak mungkin pesawat yang masih baru dan canggih hilang begitu saja, dan membuat saya sangat penasaran. Sambil terus memantau perkembangan dari tv, Saya juga mencoba menelusuri berita dari internet, untuk mendapatkan informasi terkini. Hingga sekitar pukul 20.00 WIB, akhirnya diperoleh kumpulan data dari berbagai media internet, seperti dari tempo.co.id, detik.com, antara.co.id, dan kompas.com. Informasi awal yang berhasil dihimpun saat itu diantaranya dari Kepala Sub-Dinas Penerangan Umum TNI AU, Kolonel Penerbang Agung Sasongko Jati. Ia menyatakan pihaknya masih mencari keberadaan pesawat itu. Dalam pesawat buatan Rusia tersebut diperkirakan terdapat 46 orang penumpang dan awak kapal.

Sementara Komandan Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, sebelumnya menyatakan delapan dari 46 penumpang Sukhoi Superjet-100 merupakan warga negara Rusia. Pesawat yang lepas landas sejak pukul 14.30 itu hilang dari kontak radar selang beberapa menit.
Dari data penerbangan kedua, dalam pesawat Sukhoi Superjet-100 terdapat 40 warga negara Indonesia. Adang menjelaskan pesawat mulai terbang pada pukul 14.21, kemudian pukul 14.33 mereka kehilangan kontak. Informasi awal lainnya yang didapat, terdapat lima awak media yang turut dalam penerbangan perkenalan Sukhoi Superjet-100 ini. Dua orang jurnalis dari stasiun televisi Trans TV, dua orang dari majalah Angkasa, dan satu orang dari Bloomberg.

Dari informasi ini, sekitar Rabu tengah malam, walaupun dalam suasana nonformil, kami memutuskan agar Tim Mapella mempersiakan personil SRU (Search and Rescue Unit/tim pencari dan penyelamat di bawah kendali Badan SAR Nasional/Basarnas) jika sewaktu-waktu diperoleh berita mengenai lokasi jatuh atau titik duga kecelakaan pesawat. Saat itu diputuskan Ketua Mapella sebagai Koordinator Tim SRU Mapella, dan Wanto Nurjaman sebagai perencana operasi dari Tim Mapella.

Keesokan harinya (Kamis, 10/05/2012) berita yang kami dapatkan semakin memperkuat alasan kami untuk segera menurunkan personil ke medan operasi. Kami memperoleh informasi dari salah satu stasiun tv nasional (sumber dari Basarnas) bahwa diperkirakan pesawat jatuh di sekitar Gunung Salak Bogor. Dugaan ini diperoleh dari perhitungan-perhitungan seperti lama penerbangan sejak take 0ff hingga hilang kontak, dan posisi ketinggian pesawat yang terakhir diterima Lanud Halim Perdanakusuma. Sekitar 200 personil polisi, dan ratusan lainnya dari TNI dan Basarnas telah dikerahkan untuk melakukan pencarian.

Akhirnya kami memperoleh berita bahwa Tim SAR gabungan telah mencapai lokasi puing pesawat Sukhoi Superjet 100 pada Kamis (10/5/2012) sekitar pukul 13.15 WIB. Di lokasi temuan puing itu, tim SAR menemukan korban tewas yang diduga merupakan penumpang pesawat naas itu. Informasi ini disampaikan staf Humas Basarnas, Gagah Prakoso, Kamis (10/5/2012) di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Gagah menjelaskan bahwa posisi penemuan jenazah korban tak jauh dari lokasi awal penemuan puing pesawat, yakni di kawasan Cidahu, Kebupaten Bogor, Jawa Barat. Ia menegaskan pesawat jet itu diperkirakan melaju dengan kecepatan tinggi, menghantam tebing, meledak, dan hancur.

Penyiapan Data, Personil, dan Pemberangkatan
Dengan alasan itulah, kami menggelar rapat khusus menjelang sore di hari yang sama yang dihadiri Dewan Penasihat Mapella, anggota senior, dan sejumlah anggota organik. Pembicaraan tengah malam sebelumnya soal rencana pengiriman personil Mapella ke medan operasi dilanjutkan dengan rencana operasi yang lebih matang. Hari itu diputuskan tim yang diberangkatkan adalah Indra Yudha Pratama (Mahasiswa Prodi D-III Kepolisian) sebagai Koordinator Tim, lalu Wanto Nurjaman (Mahasiswa Fakultas Teknik Prodi Teknik Informatika) sebagai perencana operasi, Rizki Rismawan (Fakultas Hukum), Indra Cahya Nugraha (D-III Kepolisian), dan Lukman Anugrahadi (D-III Kepolisian) sebagai anggota.

Dalam rapat itu, kami juga membahas medan operasi titik duga kecelakaan melalui peta topografi dan earth.google.com untuk menganalisa kontur (gambaran variasi tinggi-rendahnya permukaan bumi). Karena diperoleh berita jatuhnya pesawat di sekitar wilayah tebing, kami mempersiapkan tali karamantel, seperangkat ring, webing (tali tubuh) peta, kompas, golok tebas, teropong, dan peralatan lainnya yang diperlukan dalam sebuah operasi SAR.

Kamis petang, setelah dilakukan briefing rencana operasi dan doa bersama, kami berangkat menuju Posko SAR di Cidahu, Pasir Pogor, Kabupaten Sukabumi. Kami pun terus memantau perkembangan melalui kontak langsung dengan rekan kami saudara Capung, dari Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba, Jana Buana-Cimahi yang lebih dahulu berada di Posko SAR di Cidahu. Dari Capung, kami memperoleh data-data mengenai jalur-jalur transportasi, jumlah dan kekuatan personil yang ada di Posko SAR, dan update terkini tentang hasil sementara operasi SAR, yaitu mengenai titik koordinat jatuhnya pesawat dan korban yang belum bisa dievakuasi karena kendala cuaca dan medan yang sangat curam.

Kamis menjelang tengah malam kami mulai memasuki wilayah Cidahu, kami juga menyempatkan diri berkoordinasi dengan Polsek setempat untuk melaporkan kedatangan tim. Suasana Cidahu yang menurut penduduk sekitar terbiasa dingin, sepi, dan gelap, saat itu agak berbeda. Sepanjang perjalanan menuju pos, terlihat hilir mudik manusia, truk pleton, ambulance, dan jeep yang membawa pasokan logistik dan personil. Dari mulai kelompok ormas, anggota TNI-Polri, pecinta alam, hingga “pasukan komando jihad” tampak lalu lalang di sekitar wilayah Cidahu.

Pukul 23.30 WIB, kami tiba di Posko SAR Cidahu yang didirikan oleh Basarnas. Kami bermaksud mengkoordinasikan kedatangan kami kepada penanggungjawab operasi, untuk selanjutnya menyesuaikan dengan arahan mereka mengenai rencana kerja keesokan harinya. Namun saat itu tidak ada satu pun personil penanggungjawab di Posko SAR. Akhirnya kami memutuskan mendirikan camp sementara, mengevaluasi hasil kerja sejak pagi hari tadi dan istirahat.

Jumat subuh, (11/05/2012), sekitar pukul tiga dini hari, kami mengepak kembali peralatan kami, setelah “sarapan subuh” seadanya dengan segelas kopi dan mie instant. Kami tidak bisa beralama-lama, karena harus segera merapat ke Posko SAR agar tidak tertinggal perkembangan dan segera mendapatkan penugasan. Tidur yang terasa kurang, kepala sedikit pusing (karena istirahat yang terbatas) tidak menyurutkan semangat kami untuk segera melakukan pencarian dan penyelamatan korban. Sekitar pukul 03.30 WIB kami bertemu dengan OSC (On Scane Command/pengendali operasi lapangan) dari Basarnas, kami mendapatkan berbagai data mengenai koordinat jatuhnya pesawat dan kondisi korban. Akhirnya kami mendapat penugasan tergabung dengan Tim Delta (grup lainnya: Tim Carli) dan mendapatkan tugas khusus sebagai Tim Vertical Rescue dengan konsentrasi mencari black box, membantu mencari dan mengevakuasi korban serta mengevakuasi barang-barang korban guna membantu proses identifikasi.

Persiapan Menuju Lokasi dan “Komando Jihad”
Menjelang pagi hari, Gunung Salak yang terkenal dengan vegetasi tinggi (tingkat kerapatan hutan) dan “terkenal angker” dengan berbagai cerita mistis serta korban hilang serta kecelakaan pesawat itu mulai terlihat jelas. Dari kejauhan kami mempelajari medan yang harus kami lalui, tampak terjal dan berliku-liku. Dengan ketinggian sedang (2210 mdpl), Gunung Salak, ibarat “kecil-kecil cabe rawit”. Pendaki gunung sering tersesat bahkan tak jarang menjadi korban gunung ini. Karena, hutannya yang sangat luas, serta banyaknya jalur-jalur tikus yang akhirnya bisa menyesatkan.

Akhirnya Tim Delta dikumpulkan, tepat pukul 07.00 WIB untuk melakukan apel pagi dalam rangka penyiapan personil menuju medan operasi. Sekitar pukul 08.30 WIB kami mulai melakukan perjalanan. Saat perjalanan, Tim Mapella sempat dihadang oleh wartawan Metro TV diminta menjelaskan rencana kerja selama operasi. Mengingat kondisi dan waktu yang perlu kesigapan dan kecepatan, Saya menjelaskan secara singkat dan padat melalui wawancara live itu. Saat perjalanan masih di daerah desa terakhir, kami sempat dikejutkan dengan kehadiran rombongan berpakaian ala “pasukan komando jihad” yang nampak baru turun dari gunung, dengan mengacung-ngacungkan bendera organisasi, meneriakan takbir-takbir dengan wajah seperti orang mau perang, atau berdemonstrasi.

Belakangan kami tahu, bahwa mereka ternyata juga baru dari daerah titik temuan, tetapi entah apa yang mereka lakukan, karena tampak mereka tidak membawa apa-apa (seperti kantung jenazah berisi korban, barang-barang temuan, perlengkapan standar pendakian, dll). Dan yang lebih mengherankan, mereka naik-turun gunung dengan menggunakan sandal jepit! Aneh memang, bagaimana bisa melakukan operasi dengan perlengkapan seperti itu? Sementara jalur Gunung Salak itu licin, dingin, dan lembab! Terlepas dari apa yang mereka lakukan, kami mencoba berpikiran positif saja, mungkin mereka ingin menyemangati tim relawan lainnya dan kami kembali berkonsentrasi sesuai rencana.

Situasi di Puncak 1
Jumat tengah hari, akhirnya kami tiba di Puncak 1 Gunung Salak. Pada lokasi ini tampak tim pioneer dari TNI AU telah membuat helipad (landasan helikopter untuk proses evakuasi). Hari itu, karena keadaan operasi, kami terpaksa tidak melakukan shalat jumat dan digantikan shalat dzuhur. Pada bagian puncak terlihat ratusan orang yang tergabung dari kalangan TNI, Polri, PMI, Basarnas, Pecinta Alam, Pramuka, dan relawan lainnya. Tapi sayang, operasi hari itu kami rasakan tidak efektif, selain gagalnya rencana evakuasi dengan pendaratan helikopter karenca cuaca yang tidak mendukung, banyak relawan yang nampak “bingung” harus melakukan apa. Karena, kalaupun korban berhasil dievakuasi, membawa korban melalui jalur pendakian tidak akan efektif.

Akhirnya dengan sangat terpaksa kami kembali menuju Posko SAR. Sore harinya di Posko SAR Cidahu dilakukan evaluasi dan memutuskan cara penanganan operasi selanjutnya. Sabtu pagi, (13/05/2012) setelah apel pagi dan briefing Tim SAR, kami kembali melakukan perjalanan menuju Puncak 1. Tengah hari kami kembali sampai di lokasi helipad. Rencana operasi hari ini berjalan lebih lancar, tampak helikopter mulai mengangkat kantung jenazah. Raungan helikopter yang menderu-deru dan terpaan angin dari baling-baling yang membuat dedaunan dan debu berterbangan, ditambah pemandangan kantung-kantung jenazah membuat miris dan kami sempat tertegun.

Tim Mapella yang tergabung dalam unit vertical rescue, mendapat tugas khusus mencari blackbox (kotak hitam pesawat, yang berisi rekaman komunikasi pilot), berang-barang korban, dan jenazah (saat itu hampir dipastikan tidak ada korban selamat berdasarkan laporan tim sebelumnya yang terjun ke lokasi). Dari lokasi puncak tebing, tampak sudut kemiringan antara 80 sampai dengan 90 derajat, dengan ketinggian tebing diperkirakan sekitar 1000 meter. Setelah memastikan tambatan-tambatan aman pada tubuh dan pepohonan, kami mulai melakukan rappeling (teknik penurunan tebing dengan menggunakan tali-temali/alat-alat mountaineering).

Saat mulai memasuki daerah jatuhnya pesawat, tampak pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Pecahan-pecahan badan kapal, barang-barang korban, tersebar berserakan memenuhi tebing, dan sebagian pepohonan tampak gosong bekas terbakar. Pemandangan yang lebih miris adalah dimana sepanjang rute penurunan tebing terlihat potongan-potongan organ dan tubuh korban yang sebagian bergelantungan di atas pohon (maaf, dengan segala hormat, kami tidak bermaksud vulgar, tetapi sekedar menjelaskan bagaimana susasana ketika itu).

Pemandangan Miris
Pemandangan sekitar lokasi sungguh “kacaubalau” hampir tidak ada pemandangan indah selain mengerikan! Tapi itu semua jelas kami lupakan dan tidak lantas membuat mental kami turun, karena selama melakukan operasi ini kami tetap berkonsentrasi melaksanakan tugas sesuai perintah pengendali operasi. Sambil tubuh tetap tertambat di tali, kami mulai melaksanakan tugas, mencari black box, barang-barang, serta mengevakuasi korban. Barang-barang seperti handphone, laptop, pakaian, dan barang-barang lainnya, kami masukan dalam katung jenazah dan diveakusi menggunakan tali ke Puncak 1.

Saya, Capung, Wanto, dan Rizki yang berada di TKP, sempat menemukan kotak yang kami sangka black box. Mencari kotak seperti ini di hutan tentu sangat sulit, selain rimbun, apalagi pada medan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Kami sempat bertanya-tanya apakah ini yang dimaksud black box? Kotaknya berwarna oranye, sama seperti blackbox. Belakangan kami tahu, bahwa ternyata yang kami temukan buka black box melainkan ELT (Emergency Locater Transmiter) alias alat pemancar sinyal yang seharusnya bisa mendetekasi bahaya sebelum terjadi, misalnya pesawat yang sudah mendekati tebing atau medan-medan yang membahayakan lainnya. Setidaknya, penemuan ini akan membantu proses dalam menganalisa penyebab jatuhnya pesawat. Penemuan ELT ini diumumkan Kepala Basarnas dalam konfrensi pers, tak lama setelah barang tersebut tiba di Posko Cidahu.

Selain itu, kami juga mulai mengumpulkan potongan-potongan tubuh ke dalam kantung plastik, dan ditansfer menuju Puncak I. Awalnya agak ngeri saat kami mulai mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang berserakan, tapi lama-kelamaan seperti terkena imunisasi alias kebal terhadap rasa ngeri dan takut. Sementara itu, di Puncak 1, yang merupakan wilayah transit jalur evakuasi korban dan barang, pemandangan tak kalah miris. Porongan-potongan tubuh dan organ yang berserakan dikeluarkan kembali dari kantung-kantung jenazah untuk didata, baik jenis maupun jumlah sebelum dibawa helikopter.

“Kepala satu, jari tiga, paha satu!” begitu kira-kira instruksi tim pendata sambil melakukan pencatatan dan memasukan kembali ke kantung jenazah. Dalam keadaan darurat seperti ini (maaf) memang tidak bisa dengan cara “lemah lembut” dan sepintas seperti tidak sopan, bagian-bagian tubuh dihitung lalu dimasukan ke kantung jenazah setengah dilempar, karena memang butuh kecepatan dan kesigapan, apalagi nyaris 100 persen tidak ada korban yang utuh samasekali, dan sulit dikenali. Tim yang bertugas menghitung jumlah potongan dan jenis bagian tubuh ini juga sepertinya sudah imun, dan lama-kelamaan terbiasa tanpa “basa-basi”.

Kesulitan Air dan Egoisme Jadi Kendala
Kegiatan rutin mencari korban dan barang ini, dilakukan tim vertical rescue Mapella, hingga tanggal 14/05/2012, selama kurang lebih 6 hari berada di Puncak 1 Gunung Salak evaluasi dan briefing selalu dilakukan meskipun dalam keadaan darurat dalam cuaca yang dingin dan lembab. Selama kurun waktu tersebut, ada kejadian yang lucu sekaligus “menyebalkan”. Yaitu bersinggungan dengan persoalan kelangkaan air, untuk keperluan minum dan makan (masak).

Sebenarnya dalam situasi tertentu kelangkaan air tidak begitu menjadi kendala bagi kami, karena selain membawa air yang “agak cukup” kami memanfaatkan lumut dan akar-akar pohon, memeras airnya, untuk sekedar melepas dahaga. Tetapi keadaan sebaliknya terjadi untuk relawan lainnya. Selain mungkin karena keterbatasan pengetahuan survival dan manajemen pendakian, banyak dari mereka yang sepertinya “tidak mau sulit dan egois”.

Contohnya saat mulai perjalanan hingga menuju puncak, ada salah satu wartawan media online nasional yang selalu minta air untuk minum kepada relawan lainnya termasuk kepada kami. Atas dasar kebersamaan, dan sama-sama memiliki tugas dalam memperlancar operasi SAR kami tentu saja mau berbagi, meskipun dengan resiko persediaan kami semakin menipis. Demikian pula dengan relawan lainnya, meskipun kami tahu bahwa wartawan itu membawa cukup persediaan air, bahkan beberapa kardus air mineral yang dibawa porter (pembawa barang-barang). Saat air semakin menipis para relawan benar-benar kekurangan air, terlebih saat memasuki malam hari, salah seorang relawan meminta air kepada wartawan itu, tapi dijawab dengan kata-kata dan mimik wajah yang sepertinya menolak, “maaf saya juga kehabisan air,” jelasnya.

Tentu saja, sang peminta kecewa, namun apadaya toh sudah dijelaskan kalau sang pemilik air pun sudah kehabisan persediaan. Akirnya mereka terpaksa “puasa” air semalaman, mulut dan tenggorokan terasa kering. Tapi alangkah kagetnya, ketika keesokan harinya, saat seluruh relawan mengepak barang-barangnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Dengan santainya sang pemilik air bersama porter yang membantu membawa peralatan memasukan 2 dus air mineral ke dalam 2 buah rangselnya. Dengan mencoba memendam perasaan jengkel, kami hanya bisa melihat tanpa banyak bicara. Tetapi lama-kelamaan, masalah ini jadi bahan sindiran sepanjang jalan, dan si pemilik air tetap “cuek” walau disindir tanpa henti.

Kelangkaan air memang menjadi kendala selama proses evakuasi. Banyak relawan yang tidak bisa bertahan lama di lokasi puncak karena kehabisan air. Soal “kasus air” hanya sebagian contoh dari sikap egosime sebagian personil yang terjun ke medan operasi. Paling tidak kami bisa menarik pelajaran berarti dari masalah ini. Bahwa relawan atau personil yang diterjunkan harus benar-benar memilik kesiapan mental dan fisik. Artinya, hanya mereka yang memahami manajemen perjalanan, soliditas tim, dan ditunjang dengan kemampuan lapangan yang memadai yang seharusnya diberangkatkan. Hal ini kami rasa sangat penting dalam rangka efektivitas pelaksanaan operasi, sehingga tidak menghambur-hamburkan tenaga dan biaya yang tidak perlu.

Hari Rabu, (15/05/2012) kami memutuskan kembali ke Bandung. Sebetulnya kami masih ingin meneruskan operasi. Tetapi, persediaan logistik kami semakin berkurang, ditambah kami merasa personil yang ada di sana sudah lebih dari cukup, sehingga kepulangan tim kecil seperti kami pasti tidak akan berdampak besar dalam proses operasi SAR. Rabu tengah malam setibanya di Sekretariat Mapella, meski masih letih, kami melakukan rapat evaluasi untuk menilai sejauhmana keberhasilan dan kendala kami selama tergabung dalam Tim Delta di bawah kendali Basarnas itu. Satu hal penting yang akan selalu kami ingat, dalam situasi apa pun kami harus tetap siapsiaga. Karena, kejadian SAR atau bencana yang membutuhkan relawan itu bisa terjadi kapan dan dimana saja, serta butuh ketabahan, kerelaan, dan pengorbanan yang tulus sebagai seorang relawan.
(TM-Beno)

Indra Yudha Pratama, NRP.L.1091116.BR. Penulis adalah Mahasiswa Program Studi D-III Kepolisian FISIP UNLA, menjabat Ketua Mahasiswa Pecinta Alam Langlangbuana*****

Leave a Reply

Your email address will not be published.