CELETUK

“TAUN BARUAN GAYA ORANG UTAN”

972300_4756456157978_223883188_nOleh: Indra S. Nugraha

BERBEDA dengan kebanyakan orang lainnya, saya dan rekan-rekan lebih memilih tahun baruan di tempat yang sepi, jauh dari hingar bingar kota yang bising dengan tiupan terompet tahun baru, dan kendaraan bermotor yang meraung-raung memekakan telinga. Saya dan Rima (Mapala-SG), Kang Ferry, Kang Joko, dan Kang Ule (Mapella-Unla), memilih menyingkir ke hutan dan cukup menikmati dari kejauhan, dahsyatnya kerlap-kerlip ribuan kembang api yang menyembur mewarnai Kota Bandung. Nah, Saya ingin membagikan cerita suasana indah ini untuk teman-teman di seluruh penjuru dunia (hehehe, ”gaya banget lu Ndra!”)

Begini ceritanya, menutup tahun baru di puncak gunung memang udah kita rencanain beberapa hari sebelum akhir Desember yang lalu. Ketika itu, salah satu anggota Mapella secara spontan meluncurkan ide gila naik Gunung Burangrang malam-malam menjelang pergantian tahun. Ide ini muncul begitu saja saat rombongan Mapala-SG tengah berlatih panjat dinding di wilayah kekuasaan Mapella-Unla, di mana lagi kalo bukan di Jl. Karapitan No. 116 Bandung. Gayung bersambut, saya dan Rima mengatakan; ”Setuju!” Waktu itu sebenarnya banyak anggota yang juga pingin ikut, tapi keliatannya mereka masih malu-malu untuk ikut (aduh gimana sih kalian, kok malu-malu, bukanya kalian suka malu-maluin? Hehehe)

Akhirnya tiba juga keberangkatan, dan rencana operasi pun berubah. Kita berangkat dari Bandung, tanggal 30 Desember 2008 dengan tujuan menuju Puncak Gunung Burangrang dan tanggal 31 turun ke lembah Burangrang yang terkenal dengan kesejukan dan rimbunya pepohonan di sana, sepi, sunyi, dan adem. Rencananya kita mau nge-basecamp di sana, mau bakar-bakaran (bukan bakar tenda doom ama pepohonan lho, tapi mau bakar kambing guling, ayam panggang, dan sapi guling tentunya….ck ck ck ck, tentu aja; nggak mungkin brow! Hehehe … bayangin aja, gimana caranya kita mau bawa sapi, ayam, dan kambing bareng-bareng naik gunung? Bisa-bisa tahun 2020, perjalanan menuju Puncak Burangrang baru beres!)

Sore menjelang magrib, kita udah tiba di Pintu Komando Situ Lembang (menuju jalan setapak ke Burangrang). Wuis…alhamdulillah, kita disuguhin ama sunset yang menakjubkan! Pasti Allah tahu kalo kita musti dikasih stimulan pandangan yang indah-indah, sebelum kita berangkat ke puncak gunung demi bangsa dan negara (eittt, emang lagi berjuang apa?) Sambil ngopi di warung terakhir dan bernarsis ria di belakang matahari, kita bergaya di sana, jeprat-jepret, pletak, doarrr suara klik kamera, menggempita memecah cakrawala…hahaha.

Akhirnya matahari bener-bener tenggelam, gelap brow, senter pun bekerja. Menyusuri Burangrang yang rimbun dan gelap itu ternyata mantap banget. Berbeda dengan penghujung tahun baru sebelumnya, kali ini cuaca di malam hari terang benderang, cerah. Ditemani dengan kerlap-kerlip jutaan bintang, kita memulai perjalanan malam, indah memang. Menjelang tengah malam sampai juga akhirnya di puncak. Tapi bedanya, ternyata di puncak gelap gulita, soalnya kabut tebel emang udah nemenin kita sejak kira-kira setengah perjalanan menuju puncak. Tapi, ngga masalah kok, karena perjalanan tetap mengasyikan. Perjalanan malam ini, membuat kita lupa kalo keringat sudah bercucuran membasahi baju dan kolor-kolor sang pengelana!

Sampai di puncak, kita kembali turun sedikit, cari tempat strategis buat diriin tenda, dan bikin perapian. Sambil nunggu masakan tempur siap, bikin kopi…srruupppp, hangat. Asik bener ngobrol bareng di puncak, sambil ngopi dan sebatang ro#@*?! (tiittt, maaf disensor). Wah nikmat bener, setelah hampir semalamam jalan, akhirnya nemu momen kaya gini, sambil ngobrol ngaler-ngidul, cekakak-cekikik….hihihihihihi (Ketawa apa itu? Hiyyy syereeeemmm)

Nah giliran pagi, tanggal 31 Desember, kita merencanakan ritual kedua setelah shalat subuh, apa itu?
Ya apalagi kalo bukan ngeburu sunrise. Saking semangatnya pingin liat matahari terbit, sejak pukul 04.40, tim udah menghadap timur nungguin sang surya…ck ck ck kelamaan brow nunggunya! Yang pasti, apalagi kalo ngga sambil kopi mania, srruupp seger….bikin nasi goreng, nyam-nyam.

Akhirnya, tibalah saatnya matahari terbit, pagi menjelang. Tapi, sampai jam 10 pagi, sunrise yang ditunggu-tunggu ngga dateng tuh (jam 10 pagi sunrise apaan? Masa matahari terbit jam segitu?), masalahnya ternyata kabut tebel masih menemani…yah ga jadi deh liat sunrise. Tapi tetep asyik, karena kabut yang tebel sampai menutup jarak pandang sekitar 30 meter itu juga dahsyat, indah banget. Karena melihat cuaca kurang mendukung, akhirnya Kang Asep sang dedengkot Mapella itu nawarin rencana gila lagi, ”Kayaknya bakal ketutup kabut terus nih kalo di sini, udah kita turun lagi dan nongkrong di Jayagiri (bukit/di bawah G. Tangkuban Parahu) aja,” cetusnya, padahal jarak tempuh dari Puncak G. Burangrang ke Jayagiri, ya lumayanlah, melambung lagi dan makan waktu setengah hari lebih.

Tapi, siapa takut! Perjalanan pun kembali dilaksanakan dengan sukacita. Tak terkecuali si Rima ngelanjutin tracking sambil ketawa-ketiwi berurai air mata, saking terharunya menyaksikan Kang Deni Ule dari Mapella, beraksi dengan jatuh bangun berkali-kali saat menuruni lembah yang licin. Dan di situ kami menyadari tubuh Kang Ule emang kebal, jatuh bangun ke tanah dan ke udara berkali-kali ngga bikin badanya ancur, maklum dia udah 7 taun di Banten… dagang pisang goreng… hehehhe, sorrrriii Kang… herrreuyyyyy.

Akhirnya, bada magrib kita nyampe juga tuh di Jayagiri. Kalo di perjalanan puncak G. Burangrang kita ditemenin jutaan bintang, sekarang kita ditemenin jutaan lampu kerlap-kerlip Kota Bandung dan sekitarnya, plus jutaan bintang. Jadi kita ditemenin kerlap-kerlip plus plus. Wuihhhhh, tambah asyik pas jam 12 malem pas pergantian tahun… ribuan kembang api yang melesat ke udara jadi nambah semarak tontonan di atas lembah ini…ck ck ck ck. Asyiknya, kita ngga perlu ngeluarin uang yang lumayan mahal buat beli kembang api. Kita tinggal nonton aja dari jauh…gratisan tapi kayaknya sih lebih asik daripada di kota, kalo di kota penglihatan kita pasti terbatas untuk liat ribuan kembang api yang memecah di udara. Pendek kata, orang kota yang sibuk, orang utan yang seneng, wahahahahahaha….

Nah, gitu deh kisah pendeknya. Mudah-mudahan tahun depan lebih seru. SALAM RIMBA!!!

Sang penulis: Indra Setia Nugraha, ST, alumnus STMIK GANESHA Bandung, anggota MAPALA-SG dan anggota simpatisan Mapella-Unla

Leave a Reply

Your email address will not be published.