BERITA

HUJAN DERAS DAN KABUT TEBAL BUKA HALANGAN!

1

Pembukaan Jalur Gunung Burangrang dan Masigit
HUJAN DERAS DAN KABUT TEBAL BUKAN HALANGAN!

Oleh: Rizki Rismawan

Kamis malam (04/10/2012), suasana di Sekretariat Mapella membuat saya sedikit agak grogi. Maklum, pada malam itu saya sedang mempresentasikan rencana Program Pengembaraan saya di hadapan Dewan Pengurus Mapella dan para penguji yang terdiri dari senior angkatan 1993, 1997 dan 2005. Awalnya saya merasa ngga PD (kurang percaya diri), karena saya khawatir presentasi saya tidak diterima dan akhirnya saya harus mengulang tahun depan.

Sementara saya sudah tidak sabar ingin segera menuntaskan program pembinaan berjenjang Mapella setelah Pendidikan dan Latihan Dasar (Masa Pengembaraan dan Kursus Pelatih), agar ilmu dan pengalaman saya bertambah dan saya segera memperoleh status sebagai anggota penuh yang memiliki hak yang penuh pula dalam melaksanakan setiap program kerja Mapella. Baik terkait kegiatan Diklatsar, maupun kegiatan-kegiatan petualangan dan keorganisasian lainnya. Perasaan ingin segera mengembara makin saya rasakan, apalagi jika saya ingat rekan-rekan satu angkatan saya (Angkatan XXI Bivak Alam) sudah menyelesaikan program ini satu bulan yang lalu.

Dalam presentasi ini, saya memaparkan rencana perjalanan, kekuatan logistik dan peralatan, serta rute pendakian melalui peta topografi dan gambar foto satelit dari earth.google.com. Dalam pengembaraan kali ini, saya memilih medan operasi Gunung Burangrang 2064 mdpl dan Gunung Masigit 1800 mdpl, dan saya akan mengumpulkan data-data yang terkait dengan keadaan masyarakat sekitar serta hal-hal yang berhubungan dengan keberadaan hutan dan gunung. Melalui presentasi yang sedikit alot, dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan tajam, kritik membangun, dan masukan-masukan dari para senior, akhirnya saya dinyatakan layak melanjutkan program pengembaraan.

Pada hari Jumat pagi, setelah selesai mengecek peralatan yang saya bawa bersama rekan saya Lukman “Buluk” Anugrahadi, kami melakukan kegiatan “ritual-sakral” ala Mapella. Apalagi kalau bukan apel pagi. Dalam apel pagi, Ketua Mapella yang bertindak sebagai Pembawa Apel memaparkan kewajiban-kewajiban kami selama melaksanakan program pengembaraan dan memimpin doa bersama. Dalam apel pagi ini, saya tidak sendirian. Karena, saya juga ditemani oleh dua orang personil Mapala-SG (Mahasiswa Pecinta Alam STMIK Ganesha), saudara Dadan dan Dinar yang juga merupakan peserta pengembaraan dari organisasinya yang secara kebutulan berangkat bersama saya dengan jalur yang sama. Selain mereka, saya juga didampingi Lukman “Buluk” yang menjabat sebagai Senior Pendamping. Tak lama setelah apel pagi, kami berangkat menuju titik awal perjalanan pengembaraan.

Kepala Desa yang Ramah dan Seputar Gadis Desa
Setelah shalat Jumat, pukul 13.15 WIB kami tiba di Kantor Pemerintah Desa Kertawangi yang merupakan bagian dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta data demografi (terkait laju pertumbuhan penduduk beserta gambaran mengenai kehidupan ekonomi, sosial, politik, keagamaan, budaya, dll). Data ini penting bagi kami, mengingat kondisi masyarakat sekitar tentunya memiliki hubungan sebab akibat dengan keberadaan hutan dan gunung yang berada di wilayahnya. Dengan kata lain, masyarakat dan segala isi hutan dan gunung merupakan sebuah kekuatan dalam mata rantai ekosistem. Kebutuhan data demografi ini, tentu saja sekaligus sebagai salah satu bahan untuk membuat laporan pengembaraan, yang nantinya akan menjadi sebuah buku.

Namun, kami kurang beruntung, kantor pemerintah desa tutup, tidak ada satu orang pun yang bertugas. Setelah bertanya sana-sini akhirnya kami ditunjukkan oleh penduduk setempat agar berkunjung secara langsung saja ke rumah sang kepala desa, di Kampung Cibalong yang berjarak kurang lebih 1 km dari kantor desa. Pukul 16.35 WIB, akhirnya kami tiba di rumah Pak Ujang Kurnia sang Kepala Desa Kertawangi. Pak Kades, demikian panggilan akrab Pak Ujang, kebetulan memang sedang berada di rumah. Dengan ramah ia mempersilahkan kami masuk, dan kami pun memperkenalkan diri sekaligus memaparkan maksud kedatangan kami.

Usai shalat Isya, kami meminta izin kepada Pak Kades untuk mendirikan tenda, di sebuah lapangan tak jauh dari rumahnya. Tetapi dengan segala keramahannya, ia “tidak mengizinkan” kami untuk mendirikan tenda. Setengah bercanda, Pak Kades mengatakan, “Ulah diditu, tos we didieu. Bobo di bumi Bapa we. Tong di luar, paur seeur nu bogoh ka akang-akang. Atawa kumaha der deui akang-akang nu bogoh ka istri di dieu, ngke hese uih.” (Jangan di sana, di sini saja, di rumah Bapak. Jangan di luar, nanti banyak yang naksir dengan anda. Atau malah nanti anda yang naksir perempuan desa, nanti malah susah pulang).
Mendengar kata-kata ini kami tertawa lebar. Bukan saja karena ucapan Pak Kades, tapi kami jadi ingat kalau sepanjang perjalanan, Lukman “Buluk” sibuk bertanya kepada gadis-gadis desa tentang rute menuju Desa Cibolang. Padahal, tentu saja itu cuma alasan atau sekedar basa-basi, karena intinya Lukman ingin “mendekatkan diri” dengan gadis desa. Sementara rute perjalanan sebenarnya tidak perlu ditanyakan karena hanya ada dua arah yang harus dilalui, antara belok kiri dan kanan.

Sebetulnya kami memang ingin mendirikan tenda. Tetapi, karena Pak Kades setengah memaksa, kami pun memutuskan beristirahat di rumah beliau. Selama menginap di rumah Pak Kades kami merasa di rumah sendiri. Dari mulai makan, minum, tidur, mandi, dll., Pak Kades selalu menganjurkan kami supaya tidak merasa canggung. Pak Kades, tampaknya tidak berbasa-basi, karena kami sungguh merasa nyaman berada di rumahnya yang sederhana. Kami pun sempat dipertemukan dengan pemuda setempat yang tampak antusias menanyakan kepada kami tentang segala hal yang berkaitan dengan pendakian gunung. Dari mulai gunung mana saja yang sudah kami daki sampai harga sepatu hiking yang kami pakai.

Sabtu pagi (06/10/2012), sekitar pukul 08.00 WIB kami berpamitan dengan Pak Kades. Sebelum bergegas memulai pendakian, kami bermaksud memberikan timbal balik atas pelayanan yang sangat ramah dari Pak Kades. Tetapi, “salam tempel” kami ditolak Pak Kades, bahkan ia mengembalikan amplop berisi uang ke kantung carrier kami. Ia menolak pemberian kami dengan halus. Dengan alasan, ia tidak mau menerima uang atau barang berbentuk apa pun dari kami, karena ia iklas atas kedatangan kami, dan merasa senang dikunjungi.

Pak Kades berpesan, “Tos kawajiban Bapa, ngalayanan akang. Bapa mah bungah ku kadatangan akang oge. Nu penting mah, cing salamet di jalan, mugi-mugi uih deui sarehat. Eta oge tos Alhamdulillah kanggo Bapa mah.” (Sudah kewajiban saya melayani anda. Dengan kedatangan anda saja sudah membuat senang, yang penting mudah-mudahan selamat di jalan kembali pulang dalam keadaan sehat. Itu saja sudah membuat saya sangat bersyukur). Ucapan ini membuat kami terharu, memang jika penduduk desa itu disebut ramah-ramah bukan sekedar cerita tetapi secara nyata kami mendapatkannya di Desa Kertawangi. Keadaan sebaliknya tentu saja ada di kota, dimana penduduknya lebih individualis dalam suasana kehidupan yang keras.

Setelah berpamitan, kami mulai melakukan aktivitas-aktivitas serius, dimulai dari check point, yaitu orientasi medan untuk menentukan posisi koordinat kami dalam peta dan melaporkan kepada Poskodal (Pos Komando Pengendali di Sekretariat Mapella yang dikoordinir Kang Wanto Nurjaman/Bidang Operasi Mapella). Dari Desa Cibolang kami kembali menuju Desa Kertawangi menuju Pintu Komando, Situ Lembang (barak militer tempat latihan perang Kopasus).

Bertemu Nenek “Perkasa yang Lunglai”
Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan seorang nenek yang terduduk lesu di pinggiran jalan desa yang berbatu. Nenek itu tampak lunglai, duduk dengan kaki menjulur, dan badan yang disandarkan pada tumpukan kayu bakar yang terikat selendang yang nampaknya baru saja ia bawa dari hutan. Melihat pemandangan ini, kami menghampiri sang Nenek, kami bertanya kenapa ia tampak lelah sekali. Dengan nafas yang ngos-ngosan, dan keringat menetes dari dagunya, ia menjelaskan baru saja dari hutan mengambil kayu dan ranting-ranting untuk keperluan memasak sehari-hari dan sebagian untuk dijual ke tetangga-tetangganya, dan ia dalam keadaan sakit. Ketika ditanya kenapa tidak anaknya saja yang mecari kayu bakar, nenek itu mengatakan, kalau anaknya sudah tidak tinggal bersamanya dan ia mengurus dua orang cucu yang masih kecil-kecil. Sementara suaminya sudah lama meninggal dan ia tinggal di sebuah gubug tak jauh dari rumah Pak Kades.

Kami terenyuh mendengar keluhan sang nenek dan saya teringat ibu saya sendiri. Betapa memang pengorbanan seorang ibu sungguh luar biasa. Demi menjamin “dapur tetap berasap” ia rela mengorbankan segalanya, walaupun dengan sisa tenaga di usia renta, bahkan dalam keadaan sakit. Ia tidak mau keluarganya tidak makan hanya lantaran tidak mendapatkan kayu bakar. Jika kita lihat bagaimana banyaknya kayu bakar yang ia gendong, rasa-rasanya seperti tidak mungkin seorang nenek berusia 70-an, membawa beban seperti itu. Saya sempat penasaran ingin tahu seberapa besar beban kayu itu, ketika saya mencoba mengangkatnya, memang kayu-kayu bakar yang dibawa sang nenek luar biasa beratnya. Botol pelpes berisi air teh manis kami keluarkan dan kami berikan kepada sang nenek.

Setelah menemani sang nenek beberapa waktu, kami terpaksa meninggalkannya, karena ia pun harus bergegas menemui cucunya dengan sedikit tergopoh-gopoh. Kami ingat, bahwa dalam carreer kami masih ada amplop berisi uang yang sebelumnya ingin kami berikan untuk Pak Kades, karena kami memang berniat memberikan uang itu untuk orang lain, akhirnya kami berikan untuk sang nenek. Sekaligus, kami meminta salah seorang pemuda yang lewat untuk mengantarkan nenek. Sebetulnya jika tidak ada satu pun orang, kami bermaksud kembali ke Cibolang, mengantarkan nenek itu (maaf saya tidak bermaksud mengumbar pertolongan yang kami berikan, tetapi hanya sekedar ingin menjelaskan suasana yang kami dapatkan ketika itu).

Mulai Mendaki Ditemani Hujan dan Kabut Tebal
Pukul 11.13 WIB kami tiba di Pos Militer Kopasus (Pintu Komando), yang merupakan satu-satunya pos terakhir, setelah itu tidak ada lagi desa dan rumah-rumah penduduk, mulai memasuki hutan dan punggungan Gunung Burangrang. Perjalanan kami sempat terhenti selama satu jam setengah karena hujan yang sangat deras. Awalnya kami tetap melakukan perjalanan meski hujan mulai turun sejak meninggalkan Pos Militer Kopasus. Saat hujan semakin deras, kami tidak mau menanggung resiko, karena hujan yang ditemani kabut menganggu jarak pandang kami. Peglihatan semakin tidak jelas, jarak pandang normal dalam keadaan hujan deras ini hanya sekitar 20 meter. Keadaaan ini membuat kami memutuskan untuk mendirikan tenda darurat.

Dalam tenda, kami sempat mengadakan rapat kecil mengenai rencana-rencana perjalanan meskipun suara angin dan hujan badai menggemuruh menganggu pendengaran kami. Sekitar pukul 14.30 WIB hujan mulai reda dan kami kembali melanjutkan perjalanan, meskipun dengan resiko kami mencapai puncak saat hari mulai gelap. Jalanan yang licin menjadi tantangan tersendiri. Saya, Lukman, Dinar, dan Dadan secara bergantian dan bagai “bersahut-sahutan” jatuh bangun. “Awas Dan, jalan licin sebelah sini,” kata saya, dan lucunya baru saja saya mengingatkan Dadan, saya juga terjatuh. Kejadian ini sering kami alami, bagaikan “film komedi”.

Selama perjalanan menuju puncak, kabut selalu menemani. Kabut tebal menutup jarak pandang kami, sampai jarak pandang hanya kira-kira 10 meter, hingga headlamp (lampu sorot di kepala) rasa-rasanya tidak begitu membantu dalam menerangi jalur pendakian. Pukul 18.30 WIB, kami sampai di Puncak Burangrang. Ternyata di posisi puncak banyak sekali pendaki yang sudah mendirikan camp. Kebanyakan mereka adalah Sispala (Siswa Pecinta Alam/Tingkat SMA) dari berbagai daerah.

Minggu subuh menjelang pagi (07/10/2012), kami mulai menyiapkan peta dan kompas. Dari puncak Burangrang, kami mengamati sunrise (awal matahari terbit), langit berwarna campuran antara jingga, biru, merah, dan oranye, subhanallah, sungguh pemandangan yang menakjubkan! Pukul 06.30 WIB, sambil menunggu masakan sarapan pagi matang, kami melakukan orientasi medan yang ke-empat kalinya. Di atas tugu tanda Puncak Burangrang, kami mengamati medan operasi.

Kami mengamati kontur (gambaran tinggi-rendah permukaan bumi), dan tanda-tanda medan yang harus kami lalui. Dalam keadaan cuaca cerah seperti ini, kami bisa mengamati posisi Gunung Masigit, yang berada tepat di bawah komplek Gunung Burangrang, yang mengarah ke selatan. Kami mengamati punggungan antara komplek Gunung Burangrang dan Gunung Masigit yang berada pada koordinat 8152. Punggungan ini nampak curam, seperti yang kami amati melalui peta pada saat presentasi di Sekretariat Mapella.

Membuka Jalur, Pengalaman Luar Biasa!
Setelah menentukan titik koordinat pada posisi puncak, sarapan pagi, dan kembali mengepak peralatan kami, perjalanan dilanjutkan menuju koordinat 8152 melalui jalan setapak. Dimana, kami akan membuka jalur baru menuju Gunung Masigit yang posisinya lebih rendah dari Gunung Burangrang. Sekitar pukul 11.30 WIB kami akhirnya berada pada posisi persimpangan antara Burangrang dan Masigit. Seteleh melakukan orientasi medan dan memastikan berada pada titik dimaksud, kami mulai mempersiapkan perlatan-peralatan yang diperlukan dalam membuka jalur. Golok tebas, pisau komando, teropong, dan tali webing kami keluarkan, dan kami siap memulai penjelajahan.

Posisi punggungan yang kami jelajahi merupakan variasi antara tanah gambut (tanah gembur yang bercampur dengan dedaunan), pohon-pohon besar dan kecil, serta semak belukar yang lebat. Saat mulai membuka jalur, inilah tantangan sebenarnya. Jika sebelumnya kami menggunakan jalur utama (jalan setapak) untuk mencapai puncak Gunung Burangrang, maka saat itu kami justru harus membuat jalur baru pada area yang rimbun, curam, dan licin. Dadan dari Mapala-SG dan Saya, secara bergantian menjadi pioneer (personil pendahulu) yang bertugas menebas pohon-pohon kecil dan semak belukar. Tentu saja ini kami lakukan semata-mata dalam proses latihan. Dalam pendakian yang sekedar menikmati petualangan dengan mengikuti track sudah pasti pekerjaan menebas dengan golok dan pisau komando ini “haram” kami lakukan.

Medan yang kami lalui terkadang sangat curam. Pada posisi punggungan, beberapa kali kami menemukan sudut kemiringan antara 65 sampai 85 derajat, bahkan sesekali hingga 90 derajat. Keadaan ini membuat kami harus menambatkan webing pada dahan-dahan dan akar-akar pohon yang kuat untuk membantu kami dalam melakukan penurunan. Jika selama pendakian kami sering jatuh bangun karena medan yang licin, maka pada posisi ini keadaan lebih parah alias sangat sering terjadi. Di pertengahan pembukaan jalur, sekitar pukul 13.00 sampai dengan 15.30 WIB hujan kembali turun. Curah hujan bervariasi dari mulai rendah sampai sangat deras. Turunnya hujan sempat membuat kami menghentikan perjalanan sementara dan melanjutkan kembali saat hujan sedikit reda.

Tanpa terasa, karena medan yang basah, lembab, dan berkabut, membuat pakaian kami sangat kotor bercampur dengan lumpur, bahkan nyaris tidak terlihat warna aslinya. Saking asyiknya membuka jalur, kami terlupa kalau duri-duri kecil menempel pada kulit kami, dan lecet-lecet di sekujur badan. Rasa perih karena lecet dan duri, rasa-rasanya benar-benar kami lupakan dan semua itu tentu saja tidak sebanding dengan pengalaman luar biasa yang kami rasakan. Di sini kami merasakan bagaimana pentingnya kerjasama tim, ketabahan dalam menempuh medan yang berat, ketekunan dan kesabaran dalam meretas jalan baru, serta kepercayaan diri dalam mengambil keputusan-keputusan yang perlu pengorbanan.

Setelah sekitar empat jam lebih kami membuka jalur baru, akhirnya perlahan namun pasti lembah yang gelap dan terjal mulai terbuka, mendatar, dan terang. Artinya, kami akan segera bertemu jalur utama di Puncak Gunung Masigit. Selang beberapa waktu, kami menemukan jalur utama di komplek puncak Gunung Masigit. Kami tidak bisa berlama-lama di puncak, mengingat kami masih harus menuruni gunung melalui jalan setapak menuju Desa Pasirlangung. Pada posisi puncak, kami kembali melakukan orientasi medan untuk menentukan titik koordinat yang selanjutnya akan kami laporkan ke Poskodal. Sama halnya saat menuju puncak dan membuka jalur, kami sering terjatuh karena medan yang licin sehabis hujan. Dalam seperempat perjalanan menuju desa, kabut tebal menemani kami.

Obrolan Hangat di Warung Kopi
Pukul 18.30 WIB setelah shalat Magrib dan bersitirahat sejenak di antara wilayah gunung dan hutan, senter mulai kami nyalakan. Dari kejauhan, samar-samar kami mulai melihat beberapa lampu rumah penduduk tanda kami semakin dekat dengan kampung yang dituju. Sekitar pukul 19.30 WIB akhirnya kami tiba di Desa Pasirlangung, disambut kedai kecil dan keramahan penduduk setempat. Kami beristirahat di warung kopi dekat Kantor Kepala Desa. Sambil meneguk segelas teh hangat tanpa gula, khas warga Sunda dan bala-bala (gorengan khas Jawa Barat, campuran sayuran dan terigu) yang disuguhkan tak lama setelah ditiriskan dari penggorengan, kering dan gurih, kami mengingat kembali pengalaman yang baru saja kami alami.

Obrolan di warung kopi itu, tanpa terasa berlangsung hingga tengah malam, diselingi sendagurau di antara kami mengingat pengalaman-pengalaman lucu selama perjalanan. Kami duduk-duduk di sekitar hawu (perapian tradisonal khas Sunda), menghangatkan badan sambil menunggu nasi liwet matang. Sang pemilik warung yang ramah mempersilahkan kami beristirahat di warungnya. Tak terasa, pakaian kami yang sebelumnya basah kuyup akhirnya kering juga. Saking lelahnya, kami tidur dengan berbagai posisi. Ada yang sambil duduk, ada yang hanya beralaskan koran dan matras tanpa baju ganti dan jeket, bahkan ada yang di kursi di bagian luar warung. Dalam keadaan seperti ini, tidur dalam posisi apapun membuat kami terlelap, hingga kokok ayam jantan bersahutan memanggil kami untuk segera menunaikan ritual wajib pada subuh menjelang pagi. Masa Pengembaran Mapella, tidak akan pernah saya lupakan. Salam Rimba! (TM-Tedi)

Rizki Rismawan. Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum, Anggota Mahasiswa Pecinta Alam Langlangbuana*****

Leave a Reply

Your email address will not be published.